Fenomena Gempa Beruntun, Dr. Ing. Fahmi Amhar

Saturday, 25 August 2007, Berita Utama (Hlm Luar) – Analisis
Fenomena Gempa Beruntun oleh Dr Ing Fahmi Amhar
DALAM bulan Agustus ini gempa beruntun melanda negeri ini. Antara lain
pada 6 Agustus 2007 tercatat gempa dengan magnitude 5,2 Skala Richter di
perairan Aceh. Kemudian pada 9 Agustus tengah malam, tempat yang selama
ini diduga aman dari gempa yaitu pantai utara Jawa terkejut dengan gempa
dengan magnitude 7,5 Skala Richter dengan pusat gempa pada kedalaman 290
km di bawah permukaan laut di barat kota Indramayu, yang dirasakan dari
Padang hingga Bali. Di Jakarta gempa ini cukup membuat panik warga yang
belum tertidur. Lalu pada 19 Agustus malam gempa mengguncang Nias dengan
kekuatan 4.8-4.9 SR. Gempa ini membuat hampir sebagian besar masyarakat
panik. Mereka masih trauma dengan gempa besar akhir 2004.

Fenomena gempa beruntun ini tidak terjadi secara kebetulan karena semua
berada di batas-batas lempeng benua. Para ahli meyakini bahwa gempa
terjadi ketika lempeng-lempeng bumi saling bergerak. Para ahli geodesi
telah memonitor pergerakan ini dengan cara sebagai berikut:

Pertama, mereka menentukan titik-titik pada batuan raksasa (berdimensi
ratusan meter) yang dianggap stabil di sejumlah tempat. Di atas
titik-titik itu dipasang alat GPS geodetis untuk mengukur posisi secara
presisi. Pengukuran ini memakan waktu setidaknya tiga kali 24 jam dan
harus dilakukan serentak di beberapa puluh titik di seluruh Indonesia.
Dengan pengukuran teliti ini, didapatkan koordinat yang kesalahan
relatifnya kurang dari 5 milimeter.

Beberapa tahun kemudian, pengukuran diulang di tempat yang sama dengan
metode serupa. Dari data koordinat beda waktu ini, akan didapatkan
besaran pergerakan lempeng benua beberapa centimeter per-tahun. Pada
pengukuran ketiga, akan didapatkan arah dan kecepatan gerakan lempeng
ini. Karena penelitian geodinamika ini dilakukan di seluruh dunia, maka
didapatkanlah peta pergerakan lempeng benua. Lempeng ini bergerak
beserta seluruh mahluk di atasnya, termasuk gunung-gunung. Dalam Alquran
tertulis: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di
tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” (QS 27 –
an-Naml:88).

Lempeng-lempeng ini tebalnya sekitar 20-30 km. Rekaman seismik dapat
menunjukkan bahwa pada batas lempeng, satu lempeng dapat menghujam ke
bawah lempeng yang lain cukup dalam. Inilah penjelasan mengapa gempa
Indramayu ada pada kedalaman 290 Km. Meski geraknya hanya 5-10 cm
pertahun, namun besarnya massa berakibat energi kinetik yang luar biasa,
minimal setara dengan pembangkit listrik 100 Giga Watt yang dinyalakan
terus menerus selama setahun.

Jika energi ini tertahan bertahun-tahun, yaitu ketika geodinamika
mencatat pergerakan yang melambat, kita justru pantas cemas. Sebab
ketika elastisitas material di dalam bumi tidak sanggup lagi menampung
energi yang tertahan ini, dia bisa ‘ejakulasi’ dalam bentuk gempa
tektonik. Dalam beberapa detik dapat saja seluruh energi maha dahsyat
tadi dilepaskan. Namun dapat juga seperti sekarang, energi ini
dilepaskan tidak sekaligus melainkan beruntun. Ini mirip permainan susun
kartu: ketika satu kartu roboh, kartu berikutnya akan roboh juga.

Namun dapat juga energi itu mewujud dalam formasi geologi, menjadi
deretan gunung-gunung yang makin meninggi atau aktif. Yang jelas,
mekanisme ini sepertinya sengaja didesain untuk menjaga stabilitas bumi.
Di Alquran tertulis: Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya
bumi itu tidak goncang bersama kamu..” (QS 16 – an-Nahl: 15).

Indonesia ‘beruntung’ berada di perbatasan tiga lempeng utama, yaitu
lempeng Pasifik, lempeng Indo-Australia (termasuk Samudra Hindia) dan
lempeng Eurasia. Dari data gempa dan vulkanik ratusan tahun, dunia juga
mencatat adanya dua ‘cincin api’ yang terbentang mengelilingi Samudra
Pasifik dan dari Nusa Tenggara sampai kawasan Mediterania di Eropa.
Sembilan puluh persen gempa dan 81% gempa terbesar dicatat di cincin api
ini. Hebatnya lagi: dua cincin api ini bertemu di Indonesia. Kita memang
berada di kawasan terpilih!

Banyak teori dilontarkan tentang penyebab pergerakan benua. Ada yang
mencoba mengaitkan dengan aktivitas kosmik (revolusi bulan mengelilingi
bumi yang menyebabkan pasang surut baik di permukaan laut yang kelihatan
maupun di daratan yang tidak kelihatan). Teori lain menganggap itu
adalah sisa energi dari proses pembentukan bumi berjuta tahun yang lalu,
yang semula adalah gas dan kemudian mendingin, namun di dalamnya masih
bergolak dengan api. Teori inilah yang saat paling dominan.

Yang jelas, fenomena gempa (termasuk tsunami) dan gunung api ini adalah
bagian dari mekanisme yang diberikan Allah untuk mendaur ulang
material-material di dalam bumi. Dengan mekanisme ini, ada mineral
seperti emas atau besi yang dinaikkan ke dekat permukaan bumi sehingga
lebih mudah ditambang, atau sampah organik akan dihimpit dengan suatu
tekanan sehingga nantinya menjadi tambang hidrokarbon (migas, batubara),
atau juga setidaknya abu vulkanik ini akan memberi mineral tambahan bagi
para petani di sekitar gunung api tersebut.

Mungkin juga, bagi bangsa yang sudah sangat terkutuk, mekanisme ini
jugalah yang dipakai Allah untuk ‘mendaur ulang’ mereka.

Alhamdulillah, kita tidak hanya memiliki potensi bencana yang sangat
besar, namun juga potensi kekayaan alam yang sangat besar, yang menunggu
untuk dikelola dengan benar oleh orang-orang yang amanah. Dan potensi
alam yang begitu besar di negeri ini dapat kita jadikan gardu epos untuk
membaktikan potensi tersebut sebagai rahmat ke seluruh semesta. (Penulis
adalah Peneliti Utama Bakosurtanal)-n#
http://www.kr.co.id/article.php?sid=134968
<http://www.kr.co.id/article.php?sid=134968>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: