Doa yang Dijawab Seketika

Doa yang Dijawab Seketika

Friday, 27 April 2007
Sumber : http://bahtiarhs.multiply.com/journal/item/52
“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya pada Bahtiar dan keluarga”

Di sini, suatu hari jum’at di masjid ini, persis di atas tempatku berpijak kini, lima belas tahun silam ….
Dua hari sudah perut tak terisi. Lapar melilit. Lemas rasanya. Lunglai. Kulit pun serasa lepas dari tulangnya. Ketika berjalan, kedua kaki seperti tak lagi kuat menahan beban tubuh yang lain. Terhuyung. Cenderung pening. Sesekali dunia seperti berputar.
Segala upaya rasanya telah kucoba. Tetapi, nihil. Bagaimanapun, aku hanyalah mahasiswa ingusan yang baru menginjak semester tiga di kampus ini. Bagaimanapun, dua semester pertama adalah masa penyesuaian diri yang luar biasa bagiku. Semestinya aku lebih berkonsentrasi di kampus. Kuliah. Karena jika tidak fokus, dua semester pertama adalah masa kritis, yang jika tidak lulus dengan nilai minimal, DO mengancam.
Namun, sejak semester dua sudah kuputuskan untuk tidak lagi membebani orang tua lebih berat lagi. Biarlah mereka memikirkan ke-8 adikku yang lain, yang juga masih bersekolah. Biarlah aku menghidupi diriku sendiri di Surabaya ini. Akhirnya aku harus bergerak, bekerja, agar bisa kuliah. Tak kurang jualan tiket seminar, mengajar komputer anak-anak SMP, dan mengajar kursus komputer di kampus sudah pernah aku lakukan. Juga membantu mengetik skripsi, membuat program kecil-kecilan. Dan begitulah yang terjadi; akhir semester dua aku dikeluarkan dari Asrama Mahasiswa karena menunggak biaya sewa hingga 3 bulan lamanya.
Akhirnya aku nebeng tinggal di lab komputer jurusanku. Tak bayar sepeserpun. Tapi aku harus tidur di kolong meja komputer, atau di atas kursi berjajar. Seringkali sendirian. Jangan tanya lagi soal mandi, cuci, jemur pakaian.
Dan dua hari telah berselang. Tak sepotong makanan pun masuk ke perutku. Dan aku tak tahu lagi, apa yang bisa kuperbuat untuk mendapatkan sedikit uang untuk mengisi perut. Meminta bantuan teman, mungkin bisa kulakukan. Tapi, aku tak punya sedikit keberanian.
Maka, selepas salat jum’at, dalam sebuah sujud salat sunah aku bermohon dengan permohonan yang panjang dan lugas, “Ya, Allah. Dua hari hambamu belum menyentuh nasi. Dua hari hambamu bertahan dan rasanya tak kuat lagi. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Hanya kepada-Mu aku bermohon. Berikanlah jalan untuk mendapatkan sedikit dari rizqi-Mu untuk meneruskan hidup ini. Secepat mungkin, Ya Allah. Secepat mungkin.”
Ketika kemudian bangkit dari sujud dan salam, rasanya aku mendengar sebuah panggilan. Panggilan pada diriku.
“Bahtiar!”
Aku menoleh. Terlihat Mas Iwan Syarif, kakak angkatanku di jurusan, mendekatiku dari arah belakang.
“Ya, Mas,” jawabku.
“Kamu bisa bantu temanku mengetik skripsinya? Nggak banyak kok. Paling 70 halaman saja.”
“Ya, Mas,” jawabku seketika. “Bisa. Mana naskahnya?”
Mas Iwan segera mengulurkan segepok tulisan tangan, beberapa rumus, dan gambar-gambar. Aku menerimanya dengan tangan gemetaran.
“Besok insya Allah sudah selesai, Mas.”
Aku langsung tersungkur. Tangisku tak tertahan lagi. Betapa doaku langsung dijawab-Nya. Seketika!

***

Hari ini, Jum’at, di atas tempatku berpijak yang sama, di masjid yang sama ini, lima belas tahun kemudian …
Aku mengenang hari itu. Aku mengenang detik yang menggetarkan dalam perjalanan hidupku itu. Sebuah momen, yang rasanya saat itu Dia begitu dekat denganku. Begitu terasa.
Air mataku berlinangan. Menetes perlahan di sela khutbah Jum’at Pak Daniel M. Rosyid di mimbar depan. Bukan karena Dia serasa begitu dekat denganku, sedekat dulu. Namun justru, rasanya kini akulah yang semakin jauh dari-Nya.
Hingga kini, aku belum pernah bisa mengulang do’a sebagaimana lima belas tahun yang lalu itu. Tak seperti ketiga pemuda di dalam goa itu, barangkali hingga kini aku tak memiliki barang sedikit simpanan kebaikan untuk sekadar bisa mengetuk pintu-Nya.

***

Mengenang kembali kejadian 15 tahun yang lalu, di Masjid Manarul Ilmi ITS
Ramadan 1427H hari ke-6.
Dimuat di eramuslim.com tanggal 5 Oktober 2006

1 Comment »

  1. dELaya Said:

    Subhanallah. .
    Jd terharu saya. .🙂


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: