Ungkapan Jujur seorang Anak

Ungkapan Jujur seorang Anak

Friday, 27 April 2007
UNGKAPAN JUJUR SEORANG ANAK

Oleh. Lesminingtyas

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak
sulung
kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang
harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut
observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas
unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu
justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung
dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk
melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan
kepada Dika:
“Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng. “Kamu ingin ibu bersikap
seperti apa ?” tanya saya. “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk
mencari
pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun
sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk menjalani
test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam
hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja
namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka
kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor
untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu
pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160.
Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak
lebih dari
115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan
yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman
lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya
untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi.

Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang
dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang
menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan
verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban
yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri,
melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….” Dika pun
menjawab: “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya
kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya
berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya
merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya
bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku
cerita,
kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya
berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya,
Dika perlu menikmati permainan-permainan
secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit
karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti
berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal
kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya
sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa
kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …” Dika
pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku
ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu”

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia
hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa
yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi
kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus
dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang
habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal
seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …” Maka
Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja
keras,
disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu
merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin
menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua
lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau
bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet
kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..” Dika
pun menjawab
“Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa
kesalahan-kesalahan
kecil yang aku buat adalah dosa”

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan
bertindak
benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat
kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa
yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk
berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan
jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan
apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus
kami
lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada
kalanya
anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa
belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang
salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu
mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …..”
Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”.

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang
sangat
sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya
penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun
ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting
untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya
dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan
pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya
dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”, Dika pun
menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku
ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah
berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf
kepadaku”.

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia,
orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana,
yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu
meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua
kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari …..”
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar “Aku
ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk
adikku”

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah
tidak
pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah,
pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya
hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa
perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh
anak-anak
diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari ….”
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata:
“tersenyum”

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya
demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang
ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa
menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu
seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku
memanggilku….” Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan
nama yang bagus”

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama
yang paling
bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa
sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa
Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku
memanggilku ..” Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena
sehari-hari
Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa
medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya. Atas
jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena
selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan
hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan
hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak
ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an
Obligation, not a Choice” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa
“Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”. Tanpa saya sadari,
saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan
panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah
anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang
jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua
ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau
marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati
ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan
amarah di dalam
hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran
dan nasehat yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: