BAHAYA KEBEBASAN YANG DIUSUNG SEKULARISME

BAHAYA KEBEBASAN

YANG DIUSUNG SEKULARISME

 

 

            Setelah gonjang-ganjing seputar keikutsertaan Putri Indonesia dalam ajang Miss Universe di Thailand beberapa waktu lalu, muncul lagi fenomena serupa dalam skala nasional namun tidak kurang kontroversial, yakni kontes Miss Waria, tepatnya di Gedung Sarinah Jakarta, yang merupakan seri kedua. Kontes tersebut ternyata mendapat sambutan yang cukup ‘hangat’ dari sebagian masyarakat. Pesertanya tak tanggung-tanggung; sebagian besar dari mereka datang dari luar Jakarta. Demikian juga sambutan penonton dan pendukung acara tersebut; setali tiga uang.

            Kejadian dalam skala lebih halus sebenarnya telah sering ‘disuguhkan’ kepada kita. Jika kita ‘rajin’ menonton berbagai tayangan di stasiun TV, hampir pasti kita sering menemukan tayangan-tayangan yang mempertontonkan tokoh-tokoh waria/banci ‘sungguhan’ atau yang berakting seperti waria/banci. Mereka beralasan, itu hanyalah sebuah hiburan, dan masyarakat pun tidak mempersoalkannya. Kalau masyarakat tidak suka, pasti tayangan-tayangan tersebut tidak akan laku, dan otomatis akan mati sendiri. Demikian argumentasi mereka. Pada akhirnya, jadilah TV menjadi media ‘kampanye’, bahwa waria/banci atau perilaku laki-laki menyerupai wanita (atau sebaliknya) adalah sah-sah saja, dan seolah tidak bertentangan dengan ajaran agama. Padahal Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ibn Abbas, telah melaknat perilaku seperti itu:

 

«لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ»

 

Rasulullah saw. telah melaknat para lelaki yang menyerupai para wanita dan para wanita yang menyerupai para lelaki. (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad).

 

Adanya kata-kata ‘melaknat’ (la‘ana) dalam hadis di atas adalah indikasi (qarînah) yang menunjukkan bahwa perilaku semacam itu telah diharamkan oleh Rasulullah saw.

Selain fenomena waria/banci yang sengaja semakin diekspos keberadaannya, kehidupan kaum gay dan pasangan sesama jenis juga seperti sengaja diangkat ke permukaan. Film layar lebar ‘Arisan’, yang menggambarkan kehidupan dua orang pasangan gay, misalnya, beberapa kali diputar ulang di sejumlah stasiun TV. Film ini seolah ingin mengkampanyekan bahwa kehidupan kaum gay adalah hal yang ‘normal’, tak perlu dipersoalkan. Bahkan di sebuah stasiun TV swasta, beberapa waktu lalu pernah disiarkan secara live (langsung) kampanye ‘legalisasi’ (pengabsahan) perkawinan sesama jenis (pasangan homoseks/lesbian). Acara yang cenderung bersifat kampanye ini menyerukan kepada masyarakat, bahwa pelaku dan praktik perkawinan sesama jenis (pasangan homoseks/lesbian) hendaknya dipahami dan diterima sebagai sebuah realitas yang terjadi dalam satu sisi kehidupan manusia. Toh mereka tidak mengganggu orang lain. Demikian kata mereka. Padahal Rasulullah saw. pernah bersabda:

 

«مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ»

Terlaknatlah siapa saja yang mempraktikan tindakan kaum Nabi Luth/liwâth (homoseksual) (HR Ahmad).

 

Beberapa stasiun TV juga sering menayangkan berbagai kegiatan amoral dan asusila lainnya seperti fenomena kehidupan dari komunitas para penjaja seks (baik pelacur wanita maupun laki-laki/gigolo), pelacuran yang melibatkan anak-anak di bawah umur, fenomena ‘ayam kampus’, kehidupan tante-tante girang dan om-om senang, pesta seks, fenomena tukar pasangan suami-istri, serta berbagai gejala penyimpangan seksual lainnya. Ironisnya, semua itu ditayangkan oleh TV lebih mirip kampanye daripada menonjolkan sisi kebejatan dari berbagai fenomena tersebut. Akibatnya, tidak jarang, tayangan-tayangan tersebut malah mengilhami sebagian orang yang ‘lemah iman’ untuk melakukan hal yang sama; persis sebagaimana berbagai tayangan berita kriminal di hampir semua saluran TV sering mengilhami sebagian orang untuk melakukan tindakan kejahatan yang sama.

Belum lagi berbagai tayangan lain berupa pornografi dan pornoaksi yang hampir setiap hari menghiasi acara-acara TV, yang bukan sekadar menjadi tontonan, tetapi—sadar atau tidak—telah menjadi ‘tuntunan’ bagi sebagian masyarakat.

 

Cermin Masyarakat yang Rusak

            Fenomena di atas jelas menunjukkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang sedang ‘sakit’. Sebab, secara individual telah muncul sosok-sosok yang mempunyai cara berpikir yang ‘kotor’; tidak mempunyai pola pikir dan pola sikap yang Islami. Mereka tidak memandang lagi halal dan haram sebagai patokan perbuatan. Mereka tidak berpikir lebih jauh lagi bahwa setelah kehidupan dunia ada Hari Pembalasan atas seluruh perbuatan manusia ketika di dunia. Walhasil, mereka telah dengan sadar melanggar aturan-aturan Allah SWT.

Di sisi lain, sebagian besar masyarakat kita ternyata cenderung ‘cuwek’ dengan berbagai kasus asusila dan amoral di atas. Sebagian besar para ulama dan tokoh agama juga seolah ‘tidak begitu dipusingkan’ dengan berbagai gejala bobrok di atas. Buktinya, sekarang hampir jarang ada protes keras apalagi kecaman terhadap berbagai perilaku masksiat di atas. Kalaupun ada, suaranya hanya terdengar sayup-sayup. Itu pun sering kalah oleh suara-suara para pembela dari berbagai tindakan bejat di atas, yang sering terdengar lebih nyaring, dan tidak jarang memojokkan para pemrotesnya. Buktinya, para pemrotes kontes Miss Universe, misalnya, malah balik diprotes dan dikritik sebagai pihak yang ‘tidak dewasa’, emosional, tidak menghargai kebebasan dan HAM, dll. Akibatnya, aktivitas amar makruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat cenderung malah semakin tersingkirkan. Pada akhirnya, muncullah sikap apatis masyarakat; mereka masa bodoh dengan apa yang diperbuat oleh orang lain; yang penting tidak mengganggu mereka.

 

Akibat Sekularisme

            Mengapa semua itu terjadi? Tidak lain karena diterapkannya sistem sekuler di tengah-tengah masyarakat, yang mengusung Hak Asasi Manusia (HAM) dan mempropagandakan kebebasan, terutama kebebasan dalam berekspresi/berperilaku. Kekebasan yang diusung sekularisme inilah yang secara jelas semakin menyuburkan berbagai praktik maksiat di atas. Meskipun kebebasan di Indonesia belum seliberal di Eropa atau Amerika, yakinlah bahwa lambat-laun, jika agenda liberalisasi dan sekularisasi terus digulirkan—terutama oleh Pemerintah—maka kebebasan yang dijamin itu akan semakin kebablasan, dan pasti semakin liberal! Sebab, sekularisasi akan selalu berbanding lurus dengan kebebasan. Parahnya, kebebasan ini juga diartikan dengan kebebasan untuk melanggar aturan-aturan yang berasal dari Allah SWT (baca: syariat Islam).

 

Bagian dari Agenda Asing

Fenomena di atas bukanlah kejadian yang terjadi begitu saja. Jika kita mencermati lebih dalam lagi, gejala di atas merupakan upaya Barat untuk mempropagandakan peradabannya yang bobrok, yang langsung atau tidak, semakin menghancurkan peradaban Islam. Acara-acara tersebut oleh Barat dan agen-agennya di-blow up secara besar-besaran, didanai dengan dana besar, dan ditata sedemikian rupa sehingga seolah-olah menjadi sebuah tontonan ‘wajib’ bagi masyarakat. Kita akhirnya bisa ‘mengerti’ mengapa kontes Miss Univers, Miss Waria, atau yang lainnya dapat dengan mudah mendapatkan sponsor dana yang begitu besar, bahkan mendapat izin lebih mudah.

Barat secara sistematis merusak pola pikir umat Islam dengan cara memaksakan peradaban mereka yang rusak seperti kebebasan dan HAM. Jika umat sudah terpengaruh maka mereka akan dengan sendirinya menjauh dari aturan-aturan Islam, sejengkal demi sejengkal, hingga akhirnya mereka mencampakkan syariat Islam dalam setiap aktivitas mereka. Dari sinilah sesungguhnya dimulainya kehancuran umat Islam. Inilah yang sebetulnya dikehendaki Barat.

 

Metode Pencegahan dan Pemberantasan

            Pencegahan dan pemberantasan berbagai fenomena kemaksiatan di atas jelas menjadi hal yang penting. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya: Pertama: menempa pribadi umat dengan kepribadian Islam. Saat ini berkembang opini, “Semua terserah masyarakat.” Opini semacam ini sangat berbahaya dan merusak karena masyarakat sendiri saat ini sudah sakit dan semakin cuwek dengan berbagai kebobrokan yang ada. Akibatnya, ketika diambil tindakan pun, sudah banyak anggota masyarakat yang menjadi korban; kerusakan masyarakat sudah terjadi di sana-sini.

Selain itu, baik-buruk, benar-salah, dan manfaat-madarat tidak boleh bergantung pada penilaian masyarakat. Semua itu harus dikembalikan pada penilaian dari Pencipta manusia, Allah SWT, Zat Yang Mahatahu. Artinya, semuanya harus dikembalikan pada penilaian syariat Islam. Sebab, Allah SWT berfirman:

 

]وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ[

Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian; boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 216).

 

Dengan demikian, ungkapan “semua terserah masyarakat”—yang tidak lain bersumber dari konsep kebebasan dalam demokrasi—adalah bentuk pengingkaran dan pembangkangan terhadap Zat Yang Mahatahu, Allah SWT.

Kedua:. membentuk masyarakat yang peduli. Rasulullah saw. bersabda:

 

«إِنَّ اللهَ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَةَ بِعَمَلِ الْخَاصَةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانِيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُوْنَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوْهُ فَلاَ يُنْكِرُوْهُ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهُ الْعَامَةَ وَالْخَاصَةَ»

Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat secara umum karena perbuatan orang-orang tertentu hingga mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka, sedangkan mereka mampu mengingkarinya, tetapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka berbuat demikian, Allah pasti akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu. (HR Ahmad dan ath-Thabrani).

 

Oleh karena itu, masyarakat secara umum harus berusaha sekuat mungkin dan sungguh-sungguh untuk mencegah dan menghalangi perilaku-perilaku yang menyimpang dari syariat Islam. Masyarakat harus meningkatkan intensitas amar makruf nahi mungkar, baik dalam hal kualitas ketegasan maupun kuantitasnya.

            Ketiga: menciptakan pemerintah yang islami, yakni yang berlandaskan syariat Islam. Hanya pemerintah semacam inilah yang dapat mencegah, menghalangi, dan menghilangkan semua bentuk penyakit masyarakat. Sebaliknya, pemerintahan sekular dimana pun pada faktanya justru menjadi pendorong utama bagi tumbuh-suburnya penyimpangan sosial di atas. Sebab, pemerintah telah mengadopsi kebebasan dan HAM—yang menjamin segala bentuk kebebasan—sebagai mainstream (arus utama) dalam menata negeri ini dan negeri-negeri kaum Muslim.

Wahai kaum Muslim,

Marilah kita bersama-sama menghadapi serangan Barat yang berupaya untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Marilah kita mengubur gagasan dan sistem sekuler yang ada untuk kembali kepada gagasan dan sistem Islam. Marilah kita menata hidup kita berlandaskan syariat Islam yang bersumber dari Pencipta kita, Allah SWT, bukan dari hawa nafsu manusia.

Untuk itu, marilah kita semua kembali pada aturan-aturan Allah, bukan malah terus berpaling darinya. Sebab, Allah SWT telah berfirman:

 

]وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى[

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha [20]: 124).

 

Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []

 

Komentar al-Islam:

IRM Dukung Ide Liberalisasi Pemikiran (Hidayatullah.com, 5/7/2005).

 

Yang kita butuhkan sekarang bukan liberalisasi pemikiran, tapi islamisasi pemikiran, dengan akidah Islam sebagai landasan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: