BARAT TAK PERNAH BERHENTI MEMERANGI ISLAM DAN KAUM MUSLIM

BARAT TAK PERNAH BERHENTI MEMERANGI

ISLAM DAN KAUM MUSLIM

Bom meledak di London. Kita semua turut sedih menyaksikannya. Perdana Menteri Inggris Tony Blair langsung menuduh pelakunya adalah Muslim. Artinya, dalam kasus peledakan tersebut, kaum Muslim kembali dituduh sebagai pelakunya. Padahal, tindak kekerasan tersebut bertentangan dengan keyakinan kaum Muslim. Jangankan pada saat damai, ketika perang pun, Nabi saw. melarang umatnya menghancurkan gudang makanan, membakar kebun dan pepohonan, serta membunuh wanita dan anak-anak.

Inggris segera memperbaharui UU antiterorismenya dengan membabat pemikiran Islam yang disebutnya keras. Inggris juga menekan pemerintah Pakistan untuk menutup madrasah-madrasah. Belum jelas siapa pelakunya, tetapi penderitaan harus ditanggung umat Islam. Beberapa masjid di Inggris dirusak. Ada apa sesungguhnya di balik peristiwa ini?

Ideologi Setan?

Menanggapi peledakan di London, George W. Bush menyatakan (8/7/2005), ”Perang melawan terorisme harus terus dilanjutkan.” Sebagai pelaksanaan dari kebijakan tersebut, AS (14/7/2005) mengedarkan rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang berisi perluasan definisi mengenai keterlibatan individu dalam jaringan al-Qaida. Proposal ditujukan untuk memperluas definisi teroris yang menjangkau individu, kelompok, atau badan yang terkait dengan al-Qaida dan pemimpinnya, Osama bin Laden. Resolusi sebelumnya berisi pembentukan komite di dalam DK-PBB yang bertugas membuat daftar individu atau kelompok teroris dan memperbaharuinya secara reguler. Dengan demikian, ’teror’ baru yang dikeluarkan AS adalah mengelompokkan orang-orang Islam atau organisasi Islam yang dipandang ada hubungannya dengan al-Qaida.

Lebih jauh, Perdana Menteri Inggris Tony Blair telah mempertajam ’perang melawan terorisme’ (war on terrorism) ala Amerika menjadi ’perang melawan ideologi setan’ (war on evil ideology). Sepekan setelah peledakan di London (16/7/2005), Blair mengajak dunia untuk memerangi ekstremisme Islam yang dihasilkan oleh sebuah ideologi yang disebutnya—dan pernah disebut juga oleh Presiden AS George Bush—sebagai ’ideologi setan’. Pada sisi lain, Blair mempromosikan wajah Islam yang disebutnya ’moderat’.

Dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris, Blair menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan ’ideologi setan’ itu. Ciri ideologi setan tersebut adalah: (1) menolak legitimasi Israel; (2) memiliki pemikiran bahwa syariat adalah dasar hukum Islam; (3) kaum Muslim harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khalifah; (4) tidak mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat. Siapapun yang memiliki pemikiran tersebut digolongkannya sebagai ekstremis yang harus diperangi. Sebaliknya, mereka yang menyetujui Israel, menolak syariat, menolak kesatuan kaum Muslim dalam Kekhilafahan, dan mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat disebut memiliki prasyarat menjadi moderat.

Berdasarkan hal tersebut tampak apa yang mereka maksudkan. Pertama, mereka membuat pembagian keliru kaum Muslim; ada yang moderat dan ada yang ekstrem. Mereka lalu mengajak kaum Muslim untuk memerangi ekstremisme yang telah mereka definisikan itu. Memang, pemisahan dan pelabelan berbagai fraksi atau aliansi dalam tubuh kaum Muslim merupakan taktik penjajahan lama. Dari dulu dikenal devide et impera atau farriq tasûd: pecah-belah, lalu kuasailah. Padahal, Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk senantiasa berpegang pada tali Allah (Islam), tidak menentang ajaran Islam, dan tidak berpecah-belah. Allah SWT berfirman:

]وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا[

Berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. (QS Ali Imran [3]: 103).

Umat Islam memiliki karakter ingin bersatu. Karenanya, siapapun yang mempropagandakan istilah dan pemisahan kaum Muslim seperti itu, ekstremis lawan moderat, sadar ataukah tidak, merupakan orang yang tengah mencoba memecah-belah umat Islam.

Kedua, obyek yang dibidik oleh Inggris, AS, dan sekutunya amatlah terang, yaitu Islam. Seorang Muslim tetap akan disebut ’ekstrem’ selama dia tidak mengadopsi nilai-nilai liberal Barat atau selama tidak menerima ajaran Islam yang berkaitan dengan pengurusan masyarakat (politik) dalam kehidupannya. Tantangan kita adalah:

(1) Terus berpegang pada Islam;

(2) Membuktikan kepada dunia bahwa keyakinan, nilai-nilai, dan sistem Islam adalah yang terbaik, melalui argumen dan teladan;

(3) Menyadarkan masyarakat untuk senantiasa bersikap kritis terhadap kebijakan luar negeri penjajah. Masyarakat, misalnya, harus sadar bahwa ujung isu terorisme adalah ’mengubah wajah Islam’ sesuai dengan pandangan Kapitalisme;

(4) Berjuang terus baik secara pemikiran maupun politik serta berdoa untuk menerapkan Islam dan menyatukan umat dalam wadah Khilafah Rasyidah hingga ajaran Islam diterapkan pada tataran sosial di samping tataran individual.

Dialog Antaragama Masuk Kurikulum?

Pada akhir pernyataannya, Tony Blair mengatakan, ”Pada akhirnya, ini adalah masalah kekuatan argumentasi, debat, keyakinan agama, dan legitimasi politik yang benar. Itu tidak hanya membujuk untuk melawan terorisme, namun juga politik dan perubahan keyakinan agama mereka.”

Dengan pernyataannya ini, Blair tampak sedang ’mempromosikan wajah Islam’ sesuai dengan yang dikehendakinya, sekalipun harus mengubah keyakinan agama kaum Muslim.

Di Indonesia, pemerintah menggelar Dialog Antariman Asia-Eropa (Asia-Eropa Interfaith Dialogue) di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, 21-22 Juli. Dialog yang terkait dengan pertemuan Asia-Eropa (ASEM) ini disponsori oleh Indonesia dan Inggris. Tujuannya, menurut Martyn Natalegawa (Juru bicara Menteri Luar negeri), adalah untuk meningkatkan saling pengertian dan penghormatan di antara pemeluk kepercayaan dan agama di Asia dan Eropa, serta akan merekomendasikan diwujudkannya keselarasan kepercayaan dalam komunitas internasional. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam acara tersebut menegaskan, ”Kita harus meyakini, suara kaum moderat harus dikedepankan.”

Dari sini terang bahwa acara dialog ini sejalan dengan agenda Inggris yang ingin mengangkat Muslim moderat dan memerangi Muslim yang disebutnya ekstrem.

Di antara Deklarasi Bali yang dihasilkan acara tersebut adalah menyepakati untuk mendorong pemerintahan negara-negara ASEM mengakomodasi masuknya materi dialog antaragama dalam kurikulum pendidikan mulai tingkat sekolah menengah pertama (SMP). ”Mereka akan mengenal agama lain dan melihat adanya kesamaan-kesamaan dalam hal perdamaian, toleransi, dan kasih sayang,” ujar Arizal Effendi, Dirjen Urusan Eropa dan Amerika Departemen Luar Negeri, sekaligus juru bicara Indonesia forum itu.

Sekalipun hal ini baru sebatas rekomendasi, kaum Muslim perlu mencermatinya. Selama ini, sekalipun dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) anak-anak Muslim yang sekolah di sekolah non-Muslim harus mendapatkan pendidikan agamanya oleh guru beragama Islam, tetapi karena tidak ada sanksi apapun, maka pelaksanaannya tidak efektif. Banyak anak Muslim yang tidak diajari agama Islam. Jika rekomendasi itu disetujui dan dialog antariman/antaragama masuk kurikulum maka ada alat legitimasi untuk mengajarkan agama non-Islam kepada anak-anak Muslim. Selain itu, pelajaran agama di sekolah saat ini hanya 2 jam perminggu. Alih-alih pendidikan agama Islam yang ditambah, justru yang ditambah adalah ajaran agama-agama lain. Jadi, seorang siswa/mahasiswa harus belajar satu agamanya dan ajaran beberapa agama lainnya. Jadinya, mereka lebih banyak belajar tentang agama lain daripada belajar tentang agamanya sendiri di sekolah. Belum lagi, siapa yang mengajarnya. Kalau murid Muslim diajari oleh guru agama non-Islam, tentu ini adalah pemurtadan terselubung. Begitu pula, jika yang mengajar dialog antaragama itu adalah guru Muslim maka guru-guru Muslim harus mengkaji agama-agama lain. Dialog antaragama, jika jadi dimasukkan ke dalam kurikulum, jelas akan membentuk generasi Muslim yang memandang semua agama adalah sama. Konsekuensinya, akan hadir generasi yang berpikiran bahwa tidak perlu terikat dengan Islam dan hukumnya serta rela menerima nilai-nilai liberal Barat. Itulah ’perubahan keyakinan agama mereka’ yang dikehendaki Tony Blair.

Inikah juga yang dikehendaki?! Tentu, kaum Muslim yang peduli terhadap generasinya akan menolak hal tersebut.

Dari sini semakin jelas, generasi Islam sedang diarahkan pada kehidupan liberal, termasuk dalam beragama. Tragisnya, keinginan memasukkan dialog antaragama ke dalam kurikulum itu dilakukan dengan kesadaran dan penuh kebanggaan. Arizal Effendi menolak hal itu sebagai pesanan negara Barat. Dia menyatakan bahwa justru sebelumnya delegasi Eropa ragu untuk memasukkan pasal itu, baru setelah Inggris setuju, mereka pun setuju. Semakin jelaslah di mana posisi kebanyakan pemimpin di Indonesia.

Wahai kaum Muslim: Jelaslah, di tengah-tengah umat Islam sekarang tengah banyak seruan menuju Jahanam. Lalu bagaimana sikap kita? Dalam hal ini, Hudzaifah bin Yaman pernah bertutur: Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena aku khawatir keburukan tersebut menemuiku. Aku berkata, ”Wahai Rasulullah, dulu Kami berada dalam keadaan Jahiliah dan keburukan, lantas Allah SWT mendatangkan kebaikan (Islam) ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Rasulullah menjawab, ”Ya.” Aku bertanya lagi, ”Apakah setelah keburukan itu terdapat kebaikan?” Beliau menjawab, ”Ya, namun di dalamnya terdapat asap.” Aku bertanya lebih lanjut, ”Apa asapnya?” Beliau menjawab, ”Kaum yang memberikan petunjuk bukan dengan petunjukku. Engkau mengetahui (kebaikan) dari mereka dan engkau mengingkari (keburukannya).” Aku bertanya lagi, ”Apakah setelah kebaikan demikian ini ada keburukan lagi?” Rasulullah saw. Menjawab, ”Ya, yaitu para penyeru pada pintu-pintu Jahanam. Siapa saja yang memenuhi panggilan mereka, niscaya mereka menyeretnya ke Jahanam.” Aku bertanya kembali, ”Wahai Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka kepada kami!” Beliau menjelaskan, ”Mereka dari bangsa kalian serta berbicara dengan bahasa kalian.” Aku segera bertanya lagi, ”Apa yang engkau perintahkan kepadaku andai hal tersebut aku alami.” Beliau menjawab, ”Engkau harus berpegang pada Jamaah kaum Muslim dan imam mereka.” Aku bertanya, ”Bagaimana jika kaum Muslim tidak memiliki jamaah maupun imam?” Beliau pun menegaskan:

«قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»

Tinggalkanlah kelompok-kelompok (penyeru ke neraka Jahanam) itu semuanya sekalipun engkau menggigit akar pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan engkau demikian. (HR al-Bukhari dan Muslim). []

KOMENTAR AL-ISLAM:

Harga BBM Akan Naik (Republika, 26/07/52005)

Makin terbukti, sistem kapitalis memang gagal. Haruskah tetap dipertahankan?!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: