JALIN UKHUWAH, TEGAKKAN SYARIAH

JALIN UKHUWAH, TEGAKKAN SYARIAH

(Catatan dari Kongres Umat Islam Indonesia IV)

 

Kongres Umat Islam Indonesia IV (KUII IV) yang digelar tanggal 17-21 April 2005 di Jakarta baru saja berakhir. Kongres yang sama pernah dilaksanakan sebelumnya pasca Kemerdekaan Indonesia, yakni pada tahun 1945, 1949, dan 3–7 November 1998.

Jauh sebelumnya, berkali-kali kaum Muslim di Indonesia menyelenggarakan aktivitas serupa; di antaranya Kongres Umat Islam (Kongres al-Islam Hindia) di Cirebon pada 31 Oktober-2 November 1922. Tujuannya adalah untuk mengatasi perbedaan, pertikaian, dan konflik di antara berbagai kelompok umat Islam akibat perbedaan pemahaman dan praktik keagamaan menyangkut persoalan furû’iyah (cabang). Kongres berikutnya diadakan di Garut pada 1924. Kongres ini berusaha mewujudkan persatuan dan mencari penyelesaian masalah Khilafah yang pada tanggal 3 Maret 1924 dibubarkan oleh agen Inggris Musthafa Kamal. Pada Desember 1924 berlangsung Kongres al-Islam berikutnya yang diselenggarakan oleh Komite Khilafah Pusat (Centraal Comite Chilafat). Kongres memutuskan untuk mengirim delegasi ke Konferensi Khilafah di Kairo untuk menyampaikan proposal Khilafah. Setelah itu, diadakan lagi Kongres al-Islam di Yogyakarta pada 21-27 Agustus 1925. Topik Kongres ini masih seputar Khilafah dan situasi Hijaz yang masih bergolak. Kongres diadakan lagi pada 6 Februari 1926 di Bandung, September 1926 di Surabaya, 1931, dan 1932. Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang melibatkan Sarikat Islam (SI), Nahdhatul ulama (NU), Muhammadiyah, dan organisasi lainnya menyelenggarakan Kongres pada 26 Februari sampai 1 Maret 1938 di Surabaya. Arahnya adalah menyatukan kembali umat Islam.

 

Kemuliaan Islam

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa semangat umat Islam untuk bersatu terus hidup sepanjang zaman. Peristiwa-peristiwa tersebut juga menjadi bukti bahwa kaum Muslim senantiasa menaruh perhatian pada berbagai perkembangan dalam bidang sosial, politik, ekonomi, dan pendidikan untuk dipecahkan berdasarkan Islam. Bahkan, para ulama di Indonesia dulu memberikan perhatiannya pada kesatuan umat Islam sedunia dalam wadah Khilafah Islamiyah.

Memang, sikap demikian mesti dimiliki oleh segenap umat Islam. Sebab, Allah SWT telah berfirman:

 

]الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا[

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan bagi kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam menjadi agama kalian. (QS al-Maidah [5]: 3).

 

Kemuliaan dan kehormatan ada dalam Islam. Ini bukan sekadar klaim. Sejarah umat Islam yang memenuhi buku-buku sejarah dan peradaban menjadi buktinya, yang bukan hanya diakui oleh umat Islam, tetapi juga oleh pihak lain. Pemikir Barat Will Durant mengakui hal ini saat dia menulis, “Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka. Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka.…Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik.” (Durant, 1926. The History of Civilization, vol. xiii, hlm. 151).

 

Durant menambahkan, “Para khalifah itu telah memberikan jaminan keamanan kepada umat manusia yang luar biasa bagi kehidupan dan jerih-payah mereka. Para khalifah juga telah menyediakan kesempatan kepada siapa saja yang membutuhkan, memberikan kesejahteraan sepanjang berabad-abad lamanya dalam suatu wilayah yang sangat luas; fenomena seperti itu sebelumnya belum pernah dialami oleh umat manusia dalam sejarah mereka. Dengan jerih-payah mereka pendidikan berkembang hingga sains, sastra, filsafat, dan seni telah berkembang sangat pesat. Dengan itu, Asia Barat (Timur Tengah) telah menjadi bagian terpenting dunia dengan tingkat kemajuan peradaban paling tinggi sepanjang lima abad.” (Durant, ibid.).

 

Inilah sejarah kaum Muslim. Di sana terdapat kemuliaan dan kehormatan mereka. Rahasianya terletak pada keterikatan mereka pada hukum Islam. Dengan keterikatan tersebut, umat Islam dapat melakukan amar makruf nahi mungkar, dan mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam. Jadilah umat Islam sebagai umat yang tinggi dan mulia, yang dihadirkan sebagai umat terbaik untuk umat manusia, sebagaimana firman-Nya:

 

]كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ [

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian melakukan amar makruf nahi mungkar dan mengimani Allah. (QS Ali Imran [3]: 110).

 

‘Deklarasi Jakarta’

            Semangat Kongres Umat Islam Indonesia IV (KUII IV) amat aktual. Sejak awal, para peserta menyadari bahwa tantangan yang dihadapi umat Islam bersifat global. Bagaimanapun, globalisasi sebagai proses tidak dapat dielakkan berkat kemajuan teknologi. Yang penting untuk diungguli oleh kaum Muslim adalah ‘globalisme’ yang di dalamnya mengandung upaya mengglobalkan kapitalisme dan liberalisme; baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun pemikiran. Pada sisi lain, negara-negara besar pun terus mencengkeramkan kukunya dengan slogan ’perang melawan terorisme’. Untuk itulah umat Islam harus bersatu menjalin ukhuwah dan tampil memberikan solusi bagi permasalahan umat ini. Dalam semangat inilah lahir ‘Deklarasi Jakarta’.

Langkah-langkah strategis yang diputuskan KUII IV dalam ‘Deklarasi Jakarta’ itu adalah:

1.Membangun sistem pendidikan yang integratif (terpadu), tidak dikotomis (saling bertentangan)—antara agama dan umum; antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik—serta institusi/lembaga pendidikan yang berkualitas, murah, dan terjangkau.

2.Melakukan kegiatan dakwah secara terus-menerus dan komprehensif (menyeluruh), baik secara individual (fardiyah) maupun kolektif (jama’iyyah), dengan memanfaatkan berbagai media seoptimal mungkin.

3.Membangun dan memperkuat ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam) yang dapat mempersatukan seluruh potensi umat Islam sehingga menjadi satu kekuatan yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai macam tantangan demi terwujudnya umat Islam yang khayra ummah, ummatan wasathan, dan rahmatan lil ’âlamîn.

4.Membangun jaringan informasi dan media yang profesional, sehat, bermoral, dan mendidik agar mampu menciptakan suasana kehidupan yang sejuk, damai, kreatif, dan inovatif serta diridlai Allah SWT.

5.Membangun kekuatan ekonomi umat yang dapat meningkatkan kesejahteraan bersama secara adil dan merata sesuai dengan prinsip-prinsip syariat.

6.Membangun kekuatan politik umat Islam yang bermoral, jujur, bersih, dan amanah untuk menegakkan keadilan dan kebenaran demi terwujudnya tatanan masyarakat madani.

 

Dalam rangka mewujudkan langkah-langkah tersebut, KUII IV merekomendasikan:

 

1.      Menjadikan syariat Islam sebagai solusi dalam mengatasi berbagai macam problem bangsa dan mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk mempercepat pelaksanaan syariat Islam di Nanggroe Aceh Darussalam.

2.      Segera ditetapkan peraturan pemerintah tentang pendidikan agama dan realisasi alokasi anggaran pendidikan sesuai dengan amanat UU Sistem Pendidikan Nasional.

3.      Agar MUI menjadi payung pemersatu umat Islam serta mengkoordinasikan seluruh potensi dan lembaga dalam membangun ukhuwah islamiyah.

4.      Mendesak DPR dan Pemerintah agar segera membahas dan mengesahkan RUU tentang Pornografi dan Pornoaksi.

5.      Mendesak Pemerintah untuk memberlakukan dual economic system, konvensional dan syariah, sebagai sistem ekonomi nasional.

6.      Mendesak Pemerintah untuk merevisi KUHP dengan memasukkan pasal-pasal yang menyangkut perbuatan yang dilarang oleh syariat Islam.

7.      Mendesak Pemerintah untuk menindak tegas segala bentuk pelanggaran hukum seperti korupsi, eksploitasi sumberdaya alam, pengrusakan lingkungan, dan illegal logging.

8.      Mendesak Pemerintah untuk mendukung pembebasan Masjid al-Aqsa dari cengkeraman kaum zionis dan mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara Palestina.

9.      Menolak stigmatisasi (pencitraan) terorisme terhadap umat Islam yang dilakukan oleh konspirasi global.

10.  Mendesak Pemerintah untuk bersungguh-sungguh memberikan perlindungan kepada tenaga kerja di luar negeri dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya di dalam negeri.

11.  Mendorong Pemerintah untuk mengambil prakasa aktif dalam memperkuat solidaritas Asia-Afrika dan memperjuangkan tatanan dunia yang lebih adil dan bermartabat.

12.  Mengamanatkan kepada MUI untuk membentuk Badan Pekerja Kongres yang bertugas memantau dan mengevaluasi pelaksanaan hasil-hasil keputusan KUII IV.

13.  Meminta kepada Pemerintah untuk menyelesaikan masalah Ambalat secara damai atas dasar ukhuwah islamiyah.

14.  Mengajak seluruh komponen umat melakukan muhâsabah (introspeksi) sehubungan dengan berbagai krisis dan musibah yang menimpa bangsa Indonesia dengan mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallâh) dan kembali ke jalan yang diridhai Allah SWT.

Jalin Ukhuwah, Tegakkan Syariah

            Berdasarkan proses selama Kongres dan hasil keputusan tersebut dapat diketahui beberapa hal. Pertama, Kongres tersebut melibatkan hampir semua organisasi yang mewakili umat Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari seluruh Indonesia, Ormas-Ormas Islam, lembaga-lembaga Islam, para ulama dari pondok-pondok pesantren, pimpinan Perguruan Tinggi Islam terkemuka, dan peserta perorangan. Sebagaimana tercermin dalam ‘Deklarasi Jakarta’, dalam setiap sidang kelompok, tim perumus, maupun pleno, penegakkan syariat Islam merupakan inti bahasan. Hal ini menunjukkan bahwa kerinduan tegaknya syariat Islam merupakan arus utama umat. Karenanya, perjuangan penerapan syariat Islam merupakan realitas yang tidak boleh dihalang-halangi oleh siapa pun.

            Kedua, kajian terhadap hasil Kongres dan deklarasi tersebut serta proses selama Kongres menunjukkan bahwa inti semuanya adalah, ‘Jalin ukhuwah dan tegakkan syariah’. Jika dikaitkan dengan tema Kongres, ’Ukhuwah untuk Indonesia yang Bermartabat’, maka KUII IV memberikan jawaban bahwa kunci untuk meningkatkan martabat adalah penerapan syariat Islam sebagai solusi dalam mengatasi berbagai macam problem bangsa.

 

Wahai kaum Muslim,

            Sumber penyakit umat ini adalah goyahnya keyakinan umat terhadap pemikiran dan hukum Islam. Obatnya adalah mengembalikan umat pada pemikiran dan hukum Islam tersebut. Karenanya, marilah kita membangkitkan kedinamisan akidah Islam dengan terus menjalin hubungan dengan Allah SWT, berdakwah menuju penerapan syariat-Nya, dan menjalin ukhuwah islamiyah sebagai satu-satunya ikatan bagi kaum Muslim. Kita patut merenungkan firman Allah SWT:

 

]وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا[

Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. (QS Ali Imran [3]: 103). []

 

Komentar:

Irak Bukan Negara Islam (Republika, 26/4/2005).

 

Karena itu, Irak—juga negeri-negeri Islam lain—harus

segera di-‘Islam’-kan karena dulunya bagian dari

Kekhilafahan Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: