JANGAN TERJEBAK POLITIK ‘BELAH BAMBU’:ISLAM MODERAT-ISLAM RADIKAL

JANGAN TERJEBAK POLITIK ‘BELAH BAMBU’:

ISLAM MODERAT-ISLAM RADIKAL

 

Pernyataan Kepala BIN, Syamsir Siregar, di depan Komisi I DPR RI (28/11/2005) yang akan melakukan penyusupan terhadap kelompok Islam Radikal, dan menggandeng Islam Moderat sebagai upaya memerangi terorisme, kelihatannya dibangun berdasarkan logika yang selama ini dikembangkan oleh Barat tentang Islam. Barat, yang notabene kapitalis imperialis itu, dalam perang melawan Islam, memang sengaja memecah-belah Islam dan kaum Muslim—yang menjadi musuh mereka— dengan istilah moderat dan radikal. Tujuannya jelas, yakni untuk mengalahkan Islam dan kaum Muslim. Inilah politik ‘belah bambu’, atau yang lazim disebut ‘devide et impera‘, ‘farriq tasud’ atau ‘pecah dan perintah’.

Bagi negara-negara kafir imperialis, sebenarnya musuh mereka bukan kaum radikal atau fundamentalis, tetapi Islam itu sendiri (Huntington, Benturan Antarperadaban, 2003: 405). Karena itu, selama kaum moderat tetap Muslim, dan memeluk Islam, suatu ketika mereka pun akan menjadi musuh Barat. Soekarno, yang disebut moderat, terbukti pada akhirnya dimusuhi Barat setelah dianggap tidak bisa lagi memenuhi kepentingan mereka. Soeharto, yang juga digolongkan moderat, akhirnya juga dijatuhkan secara sistematis, setelah ABRI dilemahkan sejak pemberlakuan embargo militer oleh AS, dengan dalih pelanggaran HAM tahun 1991. Kita pun masih ingat dengan Benazir Butho di Pakistan, yang juga dianggap moderat; ia diangkat tetapi akhirnya dijatuhkan sendiri oleh AS.

Jadi, pengelompokan Islam dan kaum Muslim menjadi moderat dan radikal, sekali lagi, sesungguhnya tidak mencerminkan hakikat Islam dan kaum Muslim, tetapi lebih merupakan strategi negara-negara kafir imperialis untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslim, dengan cara memecah-belah keutuhan dan kesatuan mereka. Selain itu, pengelompokan seperti ini juga merupakan kesimpulan yang dibangun bukan berdasarkan Islam itu sendiri, tetapi dengan melihat Islam dari pemeluknya. Padahal, apa yang dilakukan oleh pemeluknya itu belum tentu sama persis dengan Islam.

 

Hakikat Islam dan Kaum Muslim

Secara syar’i, Islam didefinisikan oleh para ulama sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, dengan sesamanya, dan dengan dirinya sendiri.

Karena itu, Islam tidak saja mengajarkan akidah yang mengharuskan setiap pemeluknya untuk mengimani Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Kiamat, serta Qadha dan Qadar. Islam juga mengharuskan setiap pemeluknya untuk terikat dengan syariat-Nya; baik yang berkaitan dengan masalah ibadah, muamalat (seperti sistem ekonomi), munakahat (seperti sistem sosial), hudud dan jinayat (seperti sistem sanksi dan peradilan), jihad, maupun ahkam sulthaniyah (seperti sistem pemerintahan), dan sebagainya. Inilah yang disebut Islam kaffah. Inilah keberislaman yang diperintahkan oleh Allah SWT.

 

]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً[

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh (tidak setengah-setengah). (QS al-Baqarah [2]: 208).

 

 Inilah hakikat Islam yang disepakati oleh para ulama Islam. Akan tetapi, pada kenyataannya, pelaksanaan Islam oleh para pemeluknya tidak selalu berbanding lurus dengan ajaran yang dipeluknya. Korupsi, misalnya, jelas diharamkan oleh Islam, tetapi nyatanya para koruptor di negeri ini kebanyakan Muslim. Demikian juga dengan aksi pengeboman yang menjadikan penduduk sipil sebagai sasarannya, juga jelas dilarang oleh Islam, meski pelakunya ternyata Muslim. Jika kasus-kasus korupsi tersebut mewakili Muslim moderat, kemudian kasus-kasus pengeboman mewakili Muslim radikal, apakah logis jika kemudian Islam yang disalahkan? Jelas tidak, karena kesalahannya bukan pada Islam, tetapi pada masing-masing pelakunya. Semua tindakan tersebut jelas bertentangan dengan Islam dan tidak ada kaitannya dengan Islam. Jika kemudian ada kaum Muslim yang melakukan kesalahan, seharusnya ia dilihat sebagai orang yang melakukan pelanggaran terhadap (hukum) Islam, dan bukan sedang mempraktikan ajaran Islam.

 

Strategi Barat Memenangkan Pertarungan

        Jika kita mencoba mencermati berbagai pernyataan para politisi dan intelektual Barat berkaitan dengan pengelompokan Islam menjadi Islam Moderat dan Islam Radikal, kita akan menemukan bahwa yang mereka maksud dengan kelompok Islam Moderat adalah Islam yang tidak anti Barat (baca: anti Kapitalisme); Islam yang tidak bertentangan dengan sekularisme Barat; serta Islam yang tidak menolak berbagai kepentingan Barat. Intinya, dalam pandangan Barat, Islam Moderat adalah Islam sekular, Islam yang mau menerima nilai-nilai Barat seperti demokrasi dan HAM, serta Islam yang mau berkompromi dengan imperialisme Barat dan tidak menentang Barat. Kelompok yang disebut dengan Islam Moderat ini dianggap sebagai Islam yang ‘ramah’ dan bisa menjadi mitra Barat.

Sebaliknya, dalam pandangan mereka, yang disebut dengan Islam radikal adalah Islam yang menolak nilai-nilai Kapitalisme-sekular; Islam yang anti demokrasi; dan Islam yang tidak mau berkompromi dengan Barat. Dengan kata lain, dalam pandangan mereka, Islam radikal adalah Islam yang setia dengan pandangan hidup dan nilai-nilai Islam, serta Islam yang taat pada ideologi dan syariat Islam. Atau, orang radikal adalah orang yang ingin menerapkan Islam kaffah. Bagi Barat, kelompok Islam ini bukan saja dianggap sebagai Islam yang ‘keras’ dan anti-Barat, tetapi juga dianggap sebagai ancaman buat mereka.

Jelas, pengelompokan seperti ini semata-mata menggambarkan cara pandang Barat terhadap Islam dan kaum Muslim sesuai dengan ideologi mereka. Karena itu, umat Islam harus menyadari sepenuhnya, bahwa pengelompokkan Islam menjadi moderat dan radikal adalah demi kepentingan Barat, yakni untuk memunculkan satu kelompok Islam dan menekan kelompok Islam yang lain. Dengan begitu, Barat berharap, hanya ada satu Islam, yakni Islam yang mau menerima ideologi, nilai-nilai, dan peradaban Barat serta berbagai kepentingan mereka.

Tujuan Barat semacam ini tidak lain sebagai upaya mereka dalam memenangkan ‘pertarungan’ antara ideologi Islam dan ideologi sekular yang diemban Barat. Kenyataan bahwa ideologi Islam yang menjadi musuh dan ancaman Barat dalam ‘perang ideologis’ ini bisa kita baca, antara lain dari pernyataan Presiden George W. Bush terakhir, yang secara tegas menyebut Islam sebagai agama ‘radikal’ dan ‘fasis’. Bush bahkan menuduh Islam—dia tidak menyebut Islam radikal atau moderat—sebagai biang di balik aksi-aksi terorisme. Demikian juga pernyataan PM Inggris Tony Blair yang pernah menyebut Islam—dia pun tidak menyebut Islam radikal atau moderat—sebagai ‘ideologi iblis’.

Kedua pernyataan dari pemimpin negara adidaya pengusung utama ideologi Kapitalisme-sekular ini jelas-jelas menunjukkan, bahwa yang mereka anggap musuh sebetulnya adalah Islam itu sendiri dan tentu saja seluruh kaum Muslim sebagai para pengembannya. Bahkan yang mereka kelompokkan ke dalam barisan Islam Moderat pun, jika telah mulai berseberangan dengan Barat dan mengancam kepentingan Barat, tidak segan-segan mereka singkirkan, sebagaimana dicontohkan di atas. Dengan begitu, Barat sesungguhnya sedang dan akan terus memerangi Islam dan umatnya agar dominasi dan cengkeraman mereka atas Dunia Islam bisa tetap lestari.

Karena itu, umat Islam seluruhnya, baik yang dianggap radikal ataupun moderat oleh Barat, sejatinya harus menyadari, bahwa mereka adalah bersaudara. Masing-masing tidak boleh terjebak dengan politik belah bambu dan aksi pecah-belah yang dilancarkan Barat. Mereka harus bersatu. Mereka juga harus menyadari, bahwa agenda perang melawan terorisme yang dilancarkan Barat saat ini pun sesungguhnya diarahkan terhadap seluruh kaum Muslim dan ideologi Islam, bukan semata-mata terhadap mereka yang melakukan aksi terorisme (kekerasan). Sebab, jika Barat betul-betul serius dan konsisten memerangi setiap aksi kekerasan atau terorisme, maka seharusnya Barat menunjuk ‘hidung’-nya sendiri, sebelum melemparkan tuduhan terorisme kepada pihak lain, khususnya kaum Muslim. Bukankah kejahatan Barat berupa aksi pembunuhan dan pendudukan Afganistan dan Irak—bahkan dengan alasan bohong tentang senjata pemusnah massal—telah menimbulkan ratusan ribu jiwa manusia ‘tak berdosa’ meninggal? Bukankah Barat juga yang terus-menerus mendukung dan menyokong pembantaian dan pendudukan Israel di Tanah Palestina, yang telah banyak mengorbankan ribuan jiwa manusia di sana?

Karena itu pula, seharusnya kaum Muslim semuanya bersatu untuk menghadapi Barat sebagai pengemban ideologi dan peradaban Kapitalisme, yang terbukti telah banyak menimbulkan kerugian dan penderitaan umat manusia di dunia.

 

Makar Barat Akan Gagal

        Sebagai Muslim, siapapun kita, harus meyakini dan menyadari, bahwa betapapun canggihnya makar orang-orang kafir, dan betapapun kerasnya permusuhan mereka terhadap Islam, sesungguhnya Allah pasti akan menggagalkan segala daya-upaya mereka. Allah SWT berfirman:

 

]يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلاَّ أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ[

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS at-Taubah [9] 32).

 

        Melalui ayat di atas, Allah SWT sesungguhnya telah menjamin bahwa cahaya Islam tidak akan pernah bisa dipadamkan. Akan tetapi, kita juga wajib menyadari, bahwa Allah SWT memang menjamin cahaya Islam tetap bersinar sampai Hari Kiamat, tetapi Dia tidak menjamin kaum Muslim sebagai para pemeluknya senantiasa berada dalam kemuliaan dan kejayaan; tentu saja ketika mereka jauh dari cahaya Islam.

Karena itu, agar umat Islam dapat meraih kembali kemuliaan dan kejayaannya kembali sebagaimana dulu, maka tidak lain mereka harus kembali berada dalam naungan cahaya Islam; kembali pada ideologi Islam; yakni kembali pada Islam secara kâffah. Caranya tidak lain dengan menegakkan kembali Khilafah Islam yang akan menerapkan syariat Islam secara kâffah dan menyebarluaskan Islam sebagai risalah dakwah ke seluruh dunia. Hanya dengan itulah umat Islam dapat meraih kemuliaan dan kejayaannya kembali. Bukankah pada masa Kekhilafahan Islamlah umat Islam pada masa lalu—selama kurang-lebih 13 abad—meraih kemuliaan dan kejayaannya? Tidakkah kita merindukannya?!

‘Alla kulli hâl, hendaknya setiap Muslim meyakini sabda Nabi saw. berikut:

 

«ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

Kemudian akan tegak (kembali) Khilafah di atas manhaj kenabian. (HR Ahmad).

 

          Allahu akbar! []

 

KOMENTAR:

Menhan: Kita mainkan saja kepentingan AS… (Kompas, 29/11/2005)

Main api dengan AS, terbakar muka sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: