KELANGKAAN BBM BUKTI KEGAGALAN SISTEM

KELANGKAAN BBM

BUKTI KEGAGALAN SISTEM

 

Sejak tiga minggu yang lalu, telah terjadi kelangkaan BBM di negeri ini. Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro pada tanggal 14/6/2005 telah menyatakan, “Itu bukannya karena menipisnya cadangan BBM di dalam negeri,”  Dia juga menyatakan, “Sebetulmya kalau kita bicara stok kita bicara ongkos. Semakin lama stok yang disediakan makin tinggi ongkosnya,” Dia juga menambahkan, “Pertamina sebagai penyalur tunggal tak punya anggaran,”

Menteri BUMN Sugiharto  pada tanggal 22/6/2005 juga telah menjelaskan bahwa sebab kelangkaan BBM bukan karena minimnya persediaan, tetapi karena terlambatnya pembayaran dana dari Departemen Keuangan ke Pertamina. Dia menegaskan, bahwa stok BBM akan kembali normal pada tanggal 22-24/6/2005.

Akan tetapi, setelah berlalu beberapa hari hingga tiga minggu, persoalan kelangkaan BBM ternyata belum juga terselesaikan. Memang, masalahnya bukan karena minimnya stok dan kapasitas BBM, karena  volume dan kapasitas BBM di dalam negeri sebenarnya mencukupi. Sebagaimana yang terungkap dalam makalah berjudul, “The Impact of Oil Industry Liberalization on the Efficiency of Petroleum Fuels Supply for the Domestic Market in Indonesia,” tulisan Dr. Kurtubi, Head Office Pertamina dan Pusat Kajian Minyak dan Energi, bahwa di Indonesia ada sekitar 60 ladang minyak (basins), 38 di antaranya telah dieksplorasi, sementara sisanya masih belum. Di dalamnya terdapat sumberdaya energi yang luar biasa, kira-kira mencapai 77 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik (TCF) gas. Di sana terdapat stok cadangan energi sekitar 9.67 miliar barel minyak dan 146.92 TCF. Sementara kapasitas produksinya hingga tahun 2000 baru sekitar 0,48 miliar barrel minyak dan 2,26 triliun TCF. Hal ini menunjukkan bahwa volume dan kapasitas BBM sebenarnya mampu mencukupi kebutuhan rakyat di dalam negeri. Akan tetapi, mengapa kelangkaan BBM ini bisa terjadi?

Jawabannya, sebagaimana yang dinyatakan Dr. Kurtubi dan Drajad Wibowo (Pengamat Ekonomi INDEF) dalam acara Topik Minggu Ini: Kelangkaan BBM, di SCTV (6/7/2005), bahwa masalahnya kembali pada UU No. 22 tahun 2001 tentang Migas. Dalam UU tersebut diatur tentang pembatasan kewenangan Pertamina sebagai pemain utama (singgle player) di sektor ini, sekaligus memberikan hak/kewenangan kepada perusahaan minyak lain —baik perusahaan domestik maupun asing— untuk terlibat di sektor ini. Pada saat yang sama, Pemerintah mengurangi subsidi untuk BBM sejak awal tahun 2005 dari 70 triliun menjadi 25 triliun saja. Hal ini menyebabkan Pertamina tidak mampu melakukan eksplorasi dan eksploitasi terhadap ladang minyak baru. Akibatnya,  kemampuan produksi Pertamina juga menurun, baik dari segi volume maupun kapasitasnya.  

Memang, sesungguhnya problem kelangkaan BBM ini pangkalnya adalah rusaknya sistem yang digunakan oleh pemerintah, sebagaimana yang tercermin dalam UU No. 2 tahun 2005, yang membuka terjadinya privatisasi pengelolaan minyak, serta memberikan hak/kewenangan kepada berbagai pihak/perusahaan multinasional, nasional, regional, maupun  lokal untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak. Bahkan, dibiarkan untuk menetapkan harga. Sebagai contoh, di Indonesia ada 60 perusahaan kontraktor; 5 (lima) di antaranya masuk dalam kategori Super Majors yaitu: Exxon Mobil, Chevron, Shell, Total Fina Elf, Bp Amoco Arco, dan Texaco, selebihnya masuk kategori Majors yaitu: Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex, Japex,  dan perusahaan kontraktor independent. Dari 160 area kerja (working area) yang ada di negeri ini, perusahaan-perusahaan yang termasuk kategori Super Majors tadi telah menguasai cadangan migas, masing-masing: minyak 70% dan gas 80%. Sementara perusahaan-perusahaan yang termasuk kategori Majors telah menguasai cadangan migas, masing-masing: minyak sebesar 18% dan gas sebesar 15%. Sedangkan perusahaan-perusahaan yang masuk kategori independent, menguasai: minyak sebesar 12% dan gas 5%. Masing-masing dengan volume dan kapasitas produksi; perusahaan-perusahaan Super Majors: minyak sebesar 68% dan gas sebesar 82%, sementara  perusahaan-perusahaan Majors: minyak sebesar 28% dan gas sebesar 15%; sedangkan perusahaan-perusahaan independent: minyak sebesar 4% dan gas sebesar 3%.

 

Wahai kaum Muslim: Kami telah mengingatkan para penguasa, bahwa masalah energi yang termasuk dalam lafadz an-nar (api) sebagaimana yang dinyatakan di dalam sabda Nabi saw.:

«الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلإِِ وَالنَّارِ وَثَمَنُهُ حَرَامٌ»

Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang gembalaan, dan api; harga (menjual-belikannya) adalah haram. (HR Ibn Majah).

 

tidak boleh diprivatisasi, baik untuk swasta domestik maupun asing, karena energi tersebut merupakan bentuk kepemilikan umum. Dalam hal ini, syariat Islam telah menentukan sejumlah hukum tertentu mengenai barang-barang tersebut, yang tidak boleh dipermainkan. Sesungguhnya kelangkaan BBM yang terjadi akhir-akhir ini, tidak lain merupakan buah dari semuanya tadi. Lalu apakah setelah semuanya itu terjadi, cukup dipecahkan dengan pemecahan-pemecahan yang bersifat parsial, yakni dengan melakukan penghematan pemakaain BBM, sebagaimana dinyatakan dalam penjelasan Wapres Yusuf Kalla pada tanggal 7/7/2005? Tentu saja tidak cukup. Sebab, masalah ini memerlukan solusi yang lebih dari sekadar penghematan BBM, yakni harus kembali pada sistem yang ideal, yaitu syariat Islam yang telah Allah SWT turun kepada seluruh umat manusia. Sebab, berbagai bentuk kezaliman dan kesulitan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat bukan semata-mata karena penguasa yang korup, tetapi juga akibat buruknya sistem yang digunakan oleh penguasa, yaitu bukan sistem Islam, yang dibuat oleh manusia berdasarkan hawa nasfsu dan syahwat mereka. Wajar jika sistem seperti ini pada akhirnya menimbulkan kesengsaraan, kemiskinan dan kelangkaan. 

Dalam hal ini, kami mengingatkan para penguasa dengan firman Allah SWT:

]فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ[

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nûr [24]: 63)

 

Kami juga mengingatkan kaum Muslim dengan firman Allah SWT:

 

]فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى $ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى [

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thahâ [20] 123-124)

 

Karena itu, Anda semua harus berjuang bersama-sama orang-orang yang ikhlas, yakni para pengemban dakwah, dalam rangka mengubah kehidupan Anda, dengan cara menegakkan Khilafah Rasyidah serta mengikuti petunjuk yang telah Allah berikan kepada Anda, yakni dengan cara menerapkan sistem Islam. Hanya dengan sistem Islamlah kita akan mendapatkan kebahagiaan, pertolongan dan ridha Allah di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:

]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ[

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS. Al-Anfâl [8]: 24) []

 

 

Tabel 1. Kandungan Hidrokarbon di Indonesia

Jenis

Minyak

(Milyar Barrel)

Gas

(TCF)

Resources

(01/01/2000)

77,00

332,00

Potensi Cadangan

(01/01/2000)

9,67

156,92

TCF = Triliun Cubic Feet

Sumber: The Impact of Oil Industry Liberalization on the Efficiency of Petroleum Fuels Supply for the Domestic Market in Indonesia

 

Tabel 2. Perusahaan Kontraktor Migas

Perusahaan

Area Kerja

Cadangan Migas

Produksi

Berproduksi

Eksplorasi

Minyak

(%)

Gas

(%)

Minyak

(%)

Gas

(%)

1. Super Major

(Exxon Mobil, Chevron, Shell, Total Fina Elf, Bp Amoco Arco, dan Texaco)

12

 

 

 

19

 

 

70

 

80

 

68

 

82

 

 

2. Major

(Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf,Premier, Lasmo, Inpex, Japex)

15

 

32

 

18

 

15

 

28

 

15

 

3. Independent

30

52

12

5

4

3

Sumber: The Impact of Oil Industry Liberalization on the Efficiency of Petroleum Fuels Supply for the Domestic Market in Indonesia

 

KOMENTAR AL-ISLAM

Presiden Keluarkan Inpres Hemat Energi (Kompas, 11/07/2005)

Intruksikan juga agar BBM dan Sumberdaya Alam lainnya tidak dikuasai asing.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: