MEWASPADAI UPAYA PENGHANCURAN ISLAM

MEWASPADAI UPAYA PENGHANCURAN ISLAM

 

        Dalam minggu-minggu terakhir ini berbagai media, baik elektronik maupun cetak, gencar memberitakan aktivitas sebuah ’jamaah i’tikaf’ yang kontroversial. Jamaah yang menamakan diri sebagai I’tikaf Jamaah Ngaji Lelaku pimpinan Muhammad Yusman Roy, yang berasal dari Lawang, Malang, Jawa Timur ini mempraktikkan aktivitas shalat yang ’melenceng’ dari syariat.

Sejak tahun 2000 yang lalu hingga sekarang, ’Ust. Roy’ yang dulunya beragama Kristen ini terus mengembangkan model shalat dengan menyisipkan bacaan berbahasa Indonesia atau bahasa Jawa setelah membaca bahasa Arabnya.

Shalat yang dicampur dengan bahasa Indonesia jelas bertentangan dengan Islam karena Rasulullah saw. bersabda:

 

«صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي»

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat. (HR al-Bukhari).

 

Hadis tersebut menjelaskan bahwa seluruh tatacara shalat kita harus mengikuti shalat Rasulullah saw. Rasulullah saw. dengan gamblang menjelaskan dan mencontohkan secara langsung bagaimana shalat yang benar; dari mulai gerakan-gerakannya hingga bacaan apa saja yang harus dibaca dalam setiap gerakan shalat. Rasulullah saw. menggunakan bahasa Arab dalam shalat, tidak dengan bahasa yang lain. Para sahabat, tâbi’în, dan para ulama tidak mengingkari hal tersebut. Padahal mereka telah tersebar bukan hanya di Dunia Arab. Muawiyah bin al-Hakam juga pernah menyatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

 

«اِنَّ هذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيْهاَ شَيْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ»

Sesungguhnya tidak boleh dalam shalat ini ada sesuatupun dari ucapan manusia. (HR Abu Dawud dan ad-Darimi).

 

Lagipula terjemahan al-Quran bukanlah al-Quran. Ucapan berbahasa Indonesia dalam shalat adalah ucapan manusia. Karenanya, praktik shalat yang bacaannya diindonesiakan atau dicampur dengan bahasa Indonesia terkategori ke dalam bid‘ah. Bid‘ah adalah kesesatan; pelakunya pasti akan masuk neraka. Rasulullah saw. bersabda:

 

«شَرُّ اْلأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاََلَةٍ فِي النَّارِ»

Seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan; setiap yang diada-adakan adalah bid‘ah; setiap bid‘ah adalah sesat; dan setiap kesesatan (pelakunya) masuk neraka. (HR an-Nasa’i).

 

Bagian Besar dari Skenario Barat?

            Apa yang terjadi di Lawang, Malang, ini memang patut dikritisi. Mengapa? Sebab, apa yang dilakukan oleh Roy ternyata sudah terjadi sejak tahun 2000. Lalu mengapa baru pada saat ini di-blow-up? Mengapa tidak sejak tahun munculnya kejadian tersebut? Mengapa baru muncul pada saat Konferensi Umat Islam Indonesia IV (KUII IV) tegas menyuarakan syariat Islam?

Sebelumnya muncul kasus Aminah Wadud yang melakukan ’Jumatan’ dengan imam dan khathib perempuan, shaf laki-laki bercampur dengan perempuan, dan sebagian pesertanya tidak menutup aurat. ‘Agama’ Baha’i yang meyakini bahwa semua agama sama diberitakan mulai hadir di Bogor. Lalu lafal ”Allah” yang dijadikan simbol suatu grup musik diinjak-injak saat grup tersebut melakukan pentas.

Apakah semua kejadian yang ’diangkat’ pada saat yang hampir bersamaan ini terjadi secara kebetulan? Tidak mungkinkah ini, baik pelakunya sadar ataukah tidak, merupakan bagian dari upaya penghancuran Islam?

 

Barat Berupaya Menghancurkan Islam

            Sungguh, apa yang terjadi tidak lepas dari skenario Barat sejak lama untuk menghancurkan Islam. Skenario yang ada antara lain tampak dalam 4 kategori: Pertama: Serangan Militer. Serangan ini bertujuan untuk menghancurkan benteng fisik yang melindungi Islam. Perang Salib yang berkepanjangan, disertai dengan penyusupan agen-agen mereka ke Khilafah Utsmaniah untuk menyebarkan paham-paham yang mengakibatkan umat tidak berpegang lagi pada al-Quran dan as-Sunnah, adalah di antara cara-cara mereka untuk meluluhlantakkan bangunan fisik Khilafah Islam. Dengan hancurnya benteng fisik ini maka tidak ada lagi kekuatan yang akan melindungi Islam dan umatnya.

Setelah Khilafah Islamiah hancur, Barat melanjutkan strateginya dengan memecah-belah Khilafah Islamiah menjadi lebih 50 negara kecil-kecil. Tujuannya adalah agar umat Islam menjadi lemah sehingga tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melawan Barat.

            Kedua: Serangan Pemikiran (al-ghazw al-fikri). Setelah umat Islam dikotak-kotakkan dalam negeri-negeri kecil, selanjutnya Barat menyebarkan racun pemikiran ke tengah-tengah umat Islam. Paham-paham batil seperti demokrasi, HAM, pluralisme, dan lain-lain terus dipaksakan untuk diterima oleh umat Islam. Pada awalnya paham-paham sesat ini berhasil ’membius’ umat sehingga dengan pasrah tanpa ada perlawanan sedikitpun mereka menerima dengan bulat apa yang ’disuapkan’ oleh Barat tersebut. Namun, kenyataan menunjukkan: demokrasi hanyalah bualan Barat, HAM tidak untuk kaum Muslim, pluralisme hanya alat untuk mengabsahkan kebatilan. Bahkan, belum ada sejarah negeri-negeri yang dengan ’bersungguh-sungguh’ menerapkan demokrasi hingga saat ini berhasil membangun kemodernan yang beradab. Yang ada, Dunia Islam justru bergantung dan tunduk pada Barat (AS).

Namun, serangan ini pada akhirnya menemui kegagalan. Sebab, umat mulai sadar bahwa pemikiran-pemikiran yang dipaksakan oleh Barat dan AS adalah racun. Pemikiran tersebut ternyata senantiasa mengandung kepentingan dan berpihak kepada Barat. Pemikiran-pemikiran tersebut disadari merupakan salah satu alat mereka untuk menjajah umat Islam.

Ketiga: Menafsirkan Islam dengan Ideologi Kapitalisme. Setelah serangan pemikiran yang dipaksakan Barat kepada kaum Muslim gagal, akhirnya mereka mencoba jalan lain: mengambil pendapat-pendapat yang seolah-olah berasal dari Islam namun pada hakikatnya berasal dari mereka (Barat). Mereka mencoba menafsirkan Islam dengan ideologi kapitalis. Misalnya, agama dikategorikan sebagai produk budaya. Dengan pengertian ini maka agama diartikan sebagai hasil karya, cipta, dan rasa manusia yang paling tinggi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hakekat kehidupan. Konsekuensi dari kedudukannya sebagai hasil cipta manusia maka agama tidak mengandung kebenaran mutlak. Agama bisa ditafsirkan dan disesuaikan dengan kondisi dan zaman. Sebab, bisa jadi apa yang tertulis pada kitab-kitab suci adalah sesuai dengan kondisi saat itu, bukan untuk sekarang.

Muncullah tafsir terhadap al-Quran yang disesuaikan dengan hawa nafsu dan kepentingan sang penafsirnya. Penafsiran al-Quran akhirnya bebas (liberal) tak terkendali sesuai dengan nilai-nilai Kapitalisme sekular.

Namun, cara ini pun gagal. Sebaik-baik mereka membungkus pemikiran sesat mereka dengan bungkus Islam akan tetap diketahui ’kebusukannya’. Sebab, Islam adalah agama yang haq, tidak bisa dicampur dengan kebatilan.

Keempat: Liberalisasi Ibadah. Tujuannya adalah agar dalam masalah ibadah pun umat Islam bersikap bebas. Kalaupun ada orang yang jelas-jelas berbuat menyimpang dari syariat, maka umat minimal menganggapnya sebagai sebuah perbedaan yang harus disikapi secara wajar dan ditoleransi.

Karena itu, kasus imam shalat Jumat wanita yang dipelopori oleh Aminah Wadud, adanya nabi palsu di Sulawesi Tenggara yang mengajarkan bahwa berhaji tidak perlu ke Makkah, shalat dengan disertai terjemahan oleh Muhammad Yusman Roy, dan yang lainnya akan senantiasa dimunculkan dan ’dipelihara’. Tujuannya antara lain untuk menyibukkan umat Islam. Dengan begitu, energi umat Islam yang sejatinya ditujukan untuk perjuangan ke depan menerapkan syariat Islam secara kâffah menjadi terkuras. Kenyataan ini sejak dulu telah diberitahukan oleh Nabi Muhammad saw.:

 

«لَيُنْقَضَنَّ عُرَى اْلإِسْلاََمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ»

Sungguh, akan terlepas aturan dan syiar Islam (‘urâ al-Islâm) sehelai demi sehelai. Ketika terlepas suatu aturan, manusia akan bergantung pada aturan berikutnya. Awal dari ‘urâ al-Islâm tersebut adalah al-hukm (hukum, pemerintahan) dan yang terakhir adalah shalat. (HR Ahmad).

 

Akhirnya, kita bisa mengerti mengapa kasus-kasus ’aneh’ tersebut dimunculkan pada saat opini tentang penerapan syariat Islam secara kâffah mulai gencar. Tujuannya adalah agar menjadi opini pembanding yang cenderung menghilangkan opini syariat Islam. Walhasil, paham-paham menyimpang dari al-Quran dan as-Sunnah tersebut, disadari ataukah tidak, langsung maupun tidak langsung, merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya menghancurkan Islam.

 

Mengapa Terjadi?

Kejadian di atas terjadi dan menimpa umat Islam karena: Pertama: Tidak adanya benteng fisik Islam, yaitu Khilafah Islamiah. Justru yang ada di negeri-negeri Islam pada saat ini adalah sistem sekular. Sistem inilah yang pada hakikatnya menjadi ’payung’ bagi keberlangsungan cara-cara Barat tersebut dalam menghancurkan Islam. Serangan pemikiran yang diikuti dengan liberalisasi pemikiran hingga liberalisasi ibadah akan dibiarkan tumbuh subur. Bahkan secara sistemik hal-hal di atas akan didukung baik dengan kebijakan, dana, maupun yang lain. Oleh karena itu, umat Islam harus segera sadar bahwa Khilafah Islam adalah persoalan penting yang harus segera ditegakkan. Dengan adanya Khilafah, Islam dan umatnya akan terjaga. Rasulullah saw. bersabda:

 

«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

Imam itu perisai, tempat orang-orang berperang di baliknya dan berlindung dengannya. (HR Muslim).

 

Kedua: Benteng pemahaman umat lemah. Fakta ini memang tidak bisa kita pungkiri. Dari sinilah pentingnya pembinaan umat yang bertujuan untuk membekali umat agar mempunyai akidah yang mantap lagi produktif, yang tampak dalam keterikatannya dengan hukum syariat di setiap waktu, kondisi, dan kesempatan; juga agar mempunyai kesadaran politis untuk bergerak bersama-sama menegakkan syariat Islam dan mencegah kebatilan.

Ketiga: Memang benteng spiritual atau ibadah umat masih cukup tinggi, namun ’masih’ perlu ditingkatkan hingga ibadah menjadi pilar ketaatan.

 

Wahai Kaum Muslim,

            Marilah kita berpegang teguh pada tali agama Allah SWT. Insya Allah, kita tidak akan dengan mudah dihancurkan dan dipengaruhi oleh bujuk rayu menyesatkan dari Barat selama kita tetap berpegang teguh dengan Islam. Allah SWT berfirman:

 

]وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا[

Berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. (QS Ali Imran [3]: 103).

 

            Ingatlah bahwa musuh-musuh Allah tidak henti-hentinya menyusun makar siang-malam untuk menghancurkan Islam melalui tangan mereka langsung ataupun melalui tangan putra-putri Islam sendiri. Na‘ûdzu billâh! []

 

 

KOMENTAR AL-ISLAM:

Rencana Privatisasi Pendidikan Dikecam. (Republika, 10/5/2005).

Rencana privatisasi pendidikan makin membuktikan Pemerintah sudah bukan lagi pengurus rakyat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: