PLURALISME MENGHANCURKAN ISLAM

PLURALISME MENGHANCURKAN ISLAM

Fatwa MUI tentang haramnya liberalisme, pluralisme, dan sekularisme dapat dipandang sebagai upaya memberi perlindungan terhadap akidah umat dari berbagai ide yang akan menggerogotinya. Fatwa ini dapat menjadi salah satu pendorong proses pembentukan kehidupan masyarakat yang berlandaskan pada akidah dan syariat Islam secara kâffah.

Tentu hal ini tidak sejalan dengan kelompok pengusung liberalisme (paham tentang kebebasan), pluralisme (paham yang memandang semua agama sama), dan sekularisme (paham yang menyingkirkan agama dari kehidupan). Mereka telah cukup lama melakukan proses ‘pembinaan’ di masyarakat agar ide-ide tersebut menjadi tolok ukur kehidupan masyarakat. Fatwa MUI tersebut mereka anggap sebagai penghalang yang harus dirobohkan. Oleh karena itu, mereka yang tergabung dalam Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D), JIL (Jaringan Islam Liberal), ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace), Freedom Institute, Wahid Institute, dan P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) secara tegas menolak fatwa tersebut.

Tentu penolakan mereka bukanlah sesuatu yang mengagetkan, karena tugas utama mereka memang untuk menolak semua pemikiran Islam. Bahkan al-Quran pun diruntuhkan derajatnya oleh mereka dengan mendudukkannya sebagai sebuah kitab sejarah yang harus dikritisi dan dikoreksi oleh kemodernan zaman. Mereka juga menolak beberapa nash hadis sahih serta menuduh para ulama sebagai kelompok konservatif yang terasing dari kenyataan. Pada situs JIL (http://islamlib.com), mereka menolak apabila al-Quran dijadikan sebagai parameter/standar tunggal untuk menilai berbagai ajaran agama.

Mereka secara rutin ‘mengkader’ generasi Islam melalui seminar, workshop, dan lokakarya untuk membahas tema-tema seputar demokrasi, kebebasan berekspresi, sekularisme, pluralisme, dan kesetaraan jender. Dalam membahas tema-tema itu mereka mengacu pada karya-karya para teolog liberal seperti Thomas W. Arnold, Sayid Ahmad Khan, Arkoun, Ali Abdul Razik, Charless Kurzman, Fatimah Mernissi, Nasir Hamid Abu Zaid, Fazlur Rahman, dan lainnya. Karya-karya inilah yang mereka jadikan ‘kitab suci’ dalam ’menghakimi’ al-Quran.

 

Islam Menolak Pluralisme

Pluralisme (paham yang meyakini semua agama sama) yang dikembangkan di Indonesia oleh kelompok-kelompok di atas sebenarnya lahir dari ‘rahim’ para teolog Barat Kristen. Misalnya, teolog Kristen Ernst Troeltsch (1923) melontarkan gagasan bahwa semua agama selalu mengandung elemen kebenaran; tidak ada satu pun agama yang memiliki kebenaran mutlak. Konsep ketuhanan di muka bumi ini beragam dan tidak tunggal. Konsili Vatikan II (1963-1965) merevisi prinsip extra ecclesium nulla salus menjadi teologi inklusif-pluralis yang menganggap semua agama adalah benar.

Teolog dan sejarahwan agama Kanada, Wilfred Cantwell Smith, dalam bukunya Towards A World Theology (1981), mengemukakan tentang perlunya menciptakan konsep teologi universal atau global yang bisa dijadikan pijakan bersama bagi agama-agama dunia dalam berinteraksi.

Pemikiran pluralisme ini kemudian dikembangkan secara khusus di negeri-negeri Muslim seperti Mesir, Pakistan, Malaysia, Indonesia, dan sebagainya. Fazlur Rahman merupakan salah seorang tokoh pluralisme Pakistan yang menetap di Amerika dan menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menjadi ’mahaguru’ bagi kebanyakan tokoh pluralisme di Indonesia pada saat mereka kuliah perbandingan agama di Chicago.

Jadi, pluralisme agama adalah suatu paham yang menganggap semua agama adalah sama dan kebenaran setiap agama adalah relatif. Karena itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Paham ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran maupun Hadits Rasulullah saw. Allah SWT, misalnya, berfirman:

]وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ[

Siapa saja yang mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali Imran [3]: 85).

 

Muhammad Ali ash-Shabuni menjelaskan bahwa melalui ayat ini Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengikuti syariat Islam dan menolak syariat lainnya setelah diutusnya Nabi Muhammad saw. Mereka yang ingkar akan dimasukkan ke dalam neraka dan abadi di dalamnya (Lihat: Ash-Shabuni, Shafwah at-Tafâsîr, I/161).

Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Abu Hurayrah, juga bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»

Demi Zat Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat ini yang mendengar (agama)-ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum mengimani apa saja yang dengannya aku diutus, kecuali dia termasuk penghuni neraka. (HR Muslim).

 

Sesuai dengan ayat dan hadis itu, Nabi Muhammad saw.—sebagai pengemban risalah kepada seluruh umat manusia di dunia ini—telah menyerukan dakwah kepada raja-raja yang beragama Nasrani dan Majusi untuk masuk Islam. Beliau mengirim surat kepada Raja Najasyi di Habasyah (Abesinea, Etiopia), Kaisar Heraclius penguasa Romawi, Kisra penguasa Persia, Raja Muqauqis di Mesir, Raja al-Harits al-Ghassani di Yaman, dan kepada Haudhah al-Hanafi. Mereka semuanya diseru untuk meninggalkan agama mereka dan beralih pada Islam. Isi surat Rasulullah saw. kepada Heraclius, misalnya, adalah sebagai berikut:

«فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ اْلإِسْلاَمِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ اْلأَرِيسِيِّينَ»

Sesungguhnya aku berseru kepada Anda dengan seruan Islam. Masuk Islamlah Anda, niscaya Anda akan selamat. Allah akan memberikan dua pahala kepada Anda. Namun, jika Anda berpaling maka Anda menangung dosa rakyat Anda. (HR al-Bukhari).

 

Sebagian dalil-dalil di atas telah cukup untuk menunjukkan bahwa Islam menolak pluralisme. Sebenarnya, kelompok pejuang pluralisme telah mengetahui bahwa al-Quran dan al-Hadits secara tegas menolak ide pluralisme yang digagas oleh teolog Barat Kristen. Karena itu, mereka terlebih dulu meruntuhkan al-Quran dan al-Hadits sebagai sumber hukum yang utama bagi kaum Muslim sebelum mereka menjajakan pluralisme. Mereka bersembunyi di balik jargon-jargon seperti: pencerahan intelektual, rekontekstualisasi al-Quran, dan sebagainya. Padahal hakikatnya mereka menyerukan untuk menomorduakan al-Quran dan al-Hadits serta menomorsatukan rujukan para teolog liberal. 

 

Bahaya Pluralisme

Pluralisme ini sebenarnya telah menjadi agenda global untuk dihidupkan khususnya di negeri-negeri Muslim. Para pengusungnya mengeluarkan dana yang sangat besar untuk itu. The Asia Foundation, LSM yang bermarkas di San Fransisco, merupakan lembaga internasioanal yang menjadi payung dana bagi pengembangan ide pluralisme, liberalisme, sekularisme, dan HAM. Sebagaimana dikutip situs resmi pemerintah AS (http://usinfo.state.gov), LSM ini memiliki 17 kantor cabang di seluruh Asia. Pada tahun 2003 kemarin, The Asia Foundation mengucurkan bantuan sebesar 44 juta dolar AS serta mendistribusikan 750 ribu buku dan materi pendidikan yang nilainya mencapai 28 juta dolar AS di seluruh wilayah Asia.

Pluralisme merupakan agenda yang sangat berbahaya bagi umat Islam. Di antaranya adalah:

Pertama, pluralisme akan menciptakan generasi Muslim yang lemah dalam memegang ajaran Islam. Mereka akan sangat mudah untuk melanggar syariat Allah karena kebenaran telah direlatifkan. Tidak ada lagi nilai-nilai agama yang akan menjadi sandaran dalam berbagai aktivitasnya. Yang ada tinggal nilai-nilai ’universal’ versi liberalisme seperti kebebasan berekspresi, HAM, dan sebagainya. Bahkan penyimpangan dari Islam bisa saja kemudian dianggap sah dengan alasan HAM. Akhirnya, mereka akan menjadi bagian dari arus kehidupan Barat yang sekular. Risalah Islam yang mulia ini akan tercerabut dari kehidupan generasi umat secara sistematis.

Kedua, pluralisme akan menciptakan generasi Muslim yang tidak peduli, apakah sistem kehidupan ini sesuai dengan Islam atau tidak. Hilanglah kepekaan mereka untuk melakukan kontrol terhadap berbagai persoalan dari sudut pandang Islam. Bahkan aktivitas dakwah pun akan ditinggalkan karena tidak relevan lagi ketika kebenaran Islam sudah dianggap sama dengan agama atau paham apapun. Hal ini akan menghilangkan gelora umat untuk memperjuangkan tegaknya Islam secara kâffah dalam kehidupan.

Ketiga, bahaya terbesar akan terjadi sebagai akibat dari dua hal di atas. Apabila generasi Muslim lemah memegang Islam dan gelora umat pun padam, maka perjuangan menegakkan syariat Islam dalam institusi Daulah Khilafah Islamiyah akan mengalami kegagalan. Padahal perjuangan penegakan syariat ini membutuhkan dukungan dari umat, sementara umat tidak mungkin mendukung dan memperjuangkannya apabila mereka menerima pluralisme. Kelompok liberal berusaha siang-malam untuk mencegah hadirnya syariat Islam ini dalam kehidupan. Ini, misalnya, tampak dalam tulisan aktivis JIL ketika mereka menuding sistem Khilafah sebagai sistem kenegaraan yang absurd dan menodai pluralisme (Abd Mouqsith Ghazali, ”Absurditas Khilafah Islamiyah,” http://islamlib.com).

Tegaknya Khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kâffah akan mempersatukan kaum Muslim di seluruh dunia sekaligus mengakhiri penjajahan Barat kapitalis di bawah pimpinan AS terhadap negeri-negeri Muslim seperti saat ini. Mereka tentu memahami dari sejarah emas peradaban Islam, bahwa kekuatan umat Muslim di dunia saat itu terletak pada institusi Khilafah yang menjadi perisai bagi Islam dan umatnya. Karena itu, mereka akan terus mengembangkan strategi untuk mencegah tegaknya Khilafah Islamiyah.

Wahai kaum Muslim, pluralisme adalah agenda global yang sangat berbahaya terhadap Islam dan umatnya. Melalui pluralisme, Barat kapitalis telah merancang penjajahan dan penghancuran terhadap Islam secara sistematis. Oleh karena itu, kita harus melakukan dua hal secara sekaligus, yaitu: (1) membongkar kebobrokan dan agenda terselubung pluralisme di tengah-tengah umat; (2) mendakwahkan dan memperjuangkan tegaknya syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Kita memahami bahwa kebatilan pluralisme tidak mungkin dapat menutupi cahaya Islam yang terang benderang.

]يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلاَّ أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ[

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. (QS at-Taubah [9]: 32). []

 

 

KOMENTAR AL-ISLAM

Hizbut Tahrir Bakal Jadi Organisasi Islam Terlarang di Australia. (Eramuslim.com, 09/8/2005).

 

Siapapun yang jujur akan mengakui bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik Islam yang tidak pernah menyerukan, apalagi mempraktikkan, kekerasan dan terorisme.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: