Pilih Siapa di Pemilu 2009 Nanti?

Akhir – akhir ini bursa calon presiden (capres) Republik Indonesia semakin ramai saja. Ada beberapa nama yang sempat muncul dalam bursa tersebut. Di antaranya adalah mantan presiden RI Megawati Soekarno Putri serta Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Perhelatan akbar 5 tahunan itu memang masih cukup lama akan dilaksanakan yaitu dua tahun lagi. Akan tetapi tampaknya tidak satupun partai politik yang ingin kalah start memperebutkan kursi RI 1 tersebut. Lalu bagaimanakah peta kekuatan politik menjelang pemilu 2009 nanti? Apakah akan ada perubahan nasib rakyat kecil pasca pemilu nanti? Serta tentu saja yang lebih penting adalah bagaimana Islam memandang hingar bingar pemilu 2009 mendatang?

Capres Stok Lama

Tidak ada sesuatu hal yang baru dalam bursa capres dan cawapres kali ini. Hampir bisa dipastikan bahwa nama – nama yang beredar masih itu – itu saja. Mulai dari Gus Dur, Ibu Mega, Wiranto, Akbar Tandjung, sampai dengan SBY maupun Jusuf Kalla. Publik relatif telah mengenal mereka secara dekat, termasuk juga track record dari masing – masing capres dan cawapres. Lalu apanya yang baru?

Tentu saja tidak ada yang baru nantinya. Baik itu dari segi gaya kepemimpinan maupun berbagai kebijakan yang akan diambil. Kita masih ingat dengan jelas bagaimana Ibu Mega menjual satelit kita kepada Singapura. Ataupun kita juga masih ingat dengan segar siapa yang menaikkan BBM sampai lebih dari 100%. Pun juga masih segar dalam benak kita siapa yang terang – terangan mengubah perguruan – perguruan tinggi negeri menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang semakin lama semakin mahal saja biaya masuknya. Ataupun juga kebijakan – kebijakan lainnya seperti mendiamkan Freeport, pemberantasan korupsi yang tidak pernah juga tuntas, busung lapar yang tidak segera ditangani, serta politik kita yang masih tunduk kepada kepentingan asing.

Sehingga dengan sangat yakin bisa kita katakan bahwa perubahan yang signifikan tidak akan pernah terjadi ditangan status quo (baca : pro kapitalis sekuler, red) seperti mereka. Perubahan tidak akan terjadi di tangan orang – orang yang meminta jabatan seperti mereka. Padahal Rasullah saw telah melarang kita umat Islam untuk meminta jabatan. Sebagaimana sabda Rasul :

“Siapa saja yang meminta menjadi hakim dan berusaha untuk itu, maka dia akan terbebani olehnya. Dan siapa saja yang tidak meminta untuk menjadi hakim dan tidak berusaha untuk memintanya, (kemudian dia ditunjuk untuk menempati posisi itu), maka Allah akan menurunkan malaikat agar membimbingnya di jalan yang lurus.” (HR. Ahlus Sunan)

Tidak hanya sampai di sini permasalahannya. Dari berbagai sepak terjang yang dilakukan oleh para calon pemimpin itu hampir tidak ada satupun yang memenuhi janji – janjinya semasa kampanye dulu. Pasca diangkat sebagai pemimpin umumnya mereka justru cenderung mengambil kebijakan – kebijakan yang sama sekali tidak memihak kepada rakyat. Sehingga sudah sepantasnya bagi kita untuk tidak jatuh dua kali di lubang yang sama.

Apa Yang Akan Diterapkan Itu Lebih Penting!

Tampaknya demokrasi sekuler yang mengesampingkan syariat ini telah sedemikian parah bobroknya. System demokrasi ini tidak menjamin bahwa kebijakan – kebijakan yang diambil akan sesuai dengan satu standar tertentu. Sehingga sebagai contoh dalam demokrasi, kita hanya akan memilih capres atau cawapres yang kita anggap pas saja. Akan tetapi kita tidak pernah tahu dengan apa mereka akan memimpin kita nantinya. Kita tidak pernah tahu kebijakan – kebijakan apa yang akan mereka ambil nantinya. Sehingga wajar saja kalau SBY beberapa minggu pasca pelantikannya sebagai presiden langsung menaikkan BBM diluar akal sehat kita.

Ini tentu saja berbeda dengan yang terjadi pada system Islam. Dalam system Islam kita memiliki kejelasan arah pemerintahan. Artinya siapapun yang terpilih nantinya mereka harus menerapkan syariat Islam secara sempurna. Penerapan ini hukumnya wajib atau fardlu a’in bagi seorang pemimpin atau khalifah dalam menjalankan roda pemerintahannya. Alloh swt berfirman :

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. QS. Al – Maidah : 44

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. QS. Al – Maidah : 45

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. QS. Al – Maidah : 47

Sehingga pendidikan gratis misalnya bukanlah suatu janji kampanye yang diobral kepada calon pemilih. Melainkan itu adalah suatu kewajiban untuk memberikan pendidikan gratis bagi siapapun yang terpilih. Sehingga siapapun juga yang terpilih harus memenuhi pendidikan gratis itu tanpa gembar – gembor saat kampanye. Ataupun juga proses pengolahan barang tambang yang strategis bagi rakyat oleh pemerintah dengan tidak menyerahkannya kepada asing, juga merupakan satu kewajiban.

Dengan demikian rakyat dan pemimpinnya tahu apa yang menjadi kewajiban mereka masing – masing. Kewajiban pemerintah adalah menjalankan pemerintahan sesuai dengan syari’at Islam dan kewajiban rakyat adalah mengawasi pelaksanaan tsb. Hal ini juga dipertegas lagi bahwa kebijakan apapun yang diambil oleh pemimpin harus sesuai dengan Qur’an dan Sunnah. Kebijakan memberikan pengelolaan minyak dan gas kepada asing misalnya, merupakan kebijakan yang haram diambil karena bertentangan dengan sabda Rasul saw :

“Kaum muslim itu berserikat dalam tiga hal : padang gembalaan (hutan dsb), air, dan api (sumber energy)”. HR Abu Dawud

Oleh karena itu sudah seharusnya kita memilih pemimpin yang akan menerapkan syariat dengan sempurna nantinya. Karena kita yakin dengan firman Allah swt berikut :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf : 96).

Kami yakin bahwa perubahan tidak akan pernah terjadi oleh orang – orang yang masih pro terhadap ideology penjajah kapitalis sekuler (status quo). Kami yakin bahwa hanya dengan Islam perubahan akan terjadi. Bagi kami syariah dan khilafah adalah sebuah harga mati atas kebangkitan hakiki. Karena sekali lagi, bukti menunjukkan bahwa pemimpin – pemimpin kita selama ini hanya tunduk kepada kepentingan penjajah kapitalis sekuler bukan kepada syariah Islam.

Apa yang menimpa negeri ini sesungguhnya tidaklah hanya disebabkan oleh lemahnya pemimpin – pemimpin kita. Tetapi juga disebabkan oleh system kufur yang mereka terapkan saat ini. Mereka lebih memilih menerapkan system kufur daripada menerapkan syariat yang pernuh berkah. Oleh karena itu sudah saatnya bagi kita untuk memilih pemimpin yang hanya pro terhadap syariat Islam.

Wallahu a’lam bishshowwab.

sumber: gemapembebasan Jawa Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: