PEMANFAATAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ( SIG ) UNTUK MEMANTAU PERKEMBANGAN KAWASAN PERMUKTMAN BARU DI KOTA SIDOARJO

Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Pertambahan jumlah penduduk dan tingkat perekonominan masyarakat dari tahun ke tahun semakin menambah kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan rumah. Pemanfaatan lahan – lahan produktif dan lahan kosong sangat dibutuhkan pengembang (developer) dalam mengembangkan permukiman. Hal ini dilakukan karena lahan di tengah kota sudah tidak ada tempat yang ideal dari sisi ekonomi. Untuk itu diperlukan data dasar mengenai luas lahan yang telah berubah peruntukanya menjadi permukiman sehingga didapatkan perencanaan .yang bersinambungan. Data dasar yang digunakan pada penelitian ini berupa data spatial ( Citra Landsat ETM+7 tahun 2002, peta Topografi Bakosurtanal tahun 1997 ) dan data tabular (Data RTRW). Data citra Landsat ETM+7 diolah menggunakan teknologi penginderaan jauh untuk mendapatkan penggunaan lahan tahun 2002. Peta Topografi Bakosurtanal digunakan untuk peta penggunaan lahan tahun 1997. Kedua jenis data penggunaan lahan beserta data tabular digabungkan melalui teknologi sistem informasi geografis ( SIG ) dengan metode teknik penggabungan (overlay) Hasil dari penelitian ini menunjukkan perkembangan permukiman antara tahun 1997 sampai tahun 2002 antara lain : kecamatan Sidoarjo seluas 548,51 hektar menjadi 1096,56 hektar, kecamatan Candi seluas 422,67 hektar menjadi 822,05 hektar, dan kecamatan Buduran seluas 175,22 hektar menjadi 354,71 hektar.

Alt. Description

A residence area is a part of environment outside covert area, either urban or rural areas that have the function as dwelling or real estate and a place for conducting actrvities needed to support the subsistence. The growth of population and economic level of the community from year to year progressively add the community need for home. The utilization of productive lands and wastelands is absolutely needed by developers to develop a residence area it is conducted because the land in the downtown, which is economically ideal, is not available. For that, it needs a basic data about the width of the lands that their use is changed to be residence areas, so it is able to get a continual plan. The basic data use in this research is in the of spatial data (Landsat ETM+7 image of year 2002, BAKOSURTANAL Topograpic Map of year 1997) and tabular data (data of RTRW). The data of Landsat ETM+7 Image is processed by using remote sensing to yield the use of the land of year 2002. The Bakosurtanal Topographic Map is used for the land use of year 1997. These two types data and tabular data are joined through Geegraphic Information System (GIS) by using overlay technique method. The result of the research shows that the development of residence area between 1997 to 2002 is as follow : Sidoarjo District for the width of 548.51 hectares become 1,096.56 hectares, Candi District for the width of 422.67 hectares become 822.05 hectares,and Buduran District for the width of 175.22 become 354.71 hectares.

1 Comment »

  1. badrus zaman Said:

    sy berharap dapat mendapatkan hasil penelitian ini secara lengkap, kami dari sidoarj social institute ( organisasi nir laba yang terlibat banyak hal pada advokasi anggaran dan kebijakan publik di sidoarjo)


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: