Perempuan dengan Hati Seluas Samudera

Oleh: Hayati Rahmah
11 Apr 2006 11:31 WIB

Perempuan itu sama sekali tidak berbeda dari
perempuan lain. Ia hanya seorang anak bungsu dari
keluarga yang sederhana. Sejak kecil, seringkali ia
harus bekerja keras dan terkadang mendapat perlakuan
tidak enak dari saudara-saudaranya. Pendidikannya
pun tidak terlalu tinggi. Meski sempat mengecap
bangku SMA, tapi ia tidak sampai menamatkannya.

Seorang laki-laki baik melamarnya ketika usianya 22
tahun. Ia pun setuju ketika harus pindah dan
meninggalkan kota kelahirannya mengikuti suami yang
bekerja di kota lain. Perjalanan waktu
mengajarkannya untuk bisa menjalankan peran sosial
dengan sangat baik. Jika di awal-awal pernikahan ia
sering menangis karena jauh dari keluarganya, pada
tahun-tahun berikutnya ia sudah terampil merawat
rumah, berbelanja ke pasar, mengasuh anak, dan lain
sebagainya.

Meski ia cuma seorang istri dan ibu rumah tangga,
tapi perempuan ini bisa menjalankan perannya dengan
sempurna. Semua kebutuhan suami selalu ia penuhi. Ia
seorang istri yang serba bisa. Suaminya tak pernah
pergi ke tukang cukur, karena dialah yang selalu
menggunting rambut suaminya. Selalu ada makanan
cemilan di rumah, karena ia pintar membuat kue. Ia
pandai mengirit uang belanja dan seringkali ia
menggunakan keterampilannya menjahit untuk membuat
gorden, sarung bantal, seprei dari hasil jahitannya.
Semua anak-anaknya pun pernah merasakan pakaian yang
dijahit oleh tangannya.

Perempuan itu melahirkan lima orang anak dari
rahimnya. Buah hati yang selalu membuatnya
bersemangat melakukan semua kegiatan rumah tangga
dengan penuh rasa cinta. Mulai dari bangun pagi,
mempersiapkan sarapan, mencuci, menyeterika, dan
membereskan rumah. Semua dikerjakan sendiri karena
kondisi hidup yang pas-pasan. Ketika usianya 30
tahun, saat ketiga anak laki-lakinya masih kecil,
suaminya mengajaknya untuk bertemu lebih dekat
dengan sang Khaliq, menuju Baitullah Makkah.
Sepulang dari haji, pakaian muslimah membalut
tubuhnya. Perempuan itu semakin matang menapaki
kehidupan.

Semakin tahun, kondisi ekonomi keluarganya semakin
membaik. Perempuan itu punya kebiasaan baru. Ia
rajin sekali bersedekah. Menjelang bulan Ramadhan,
ia akan memborong sarung, membeli bahan kain
berpuluh-puluh meter. Semuanya ia jahit dengan
tangan dibantu mesin jahit tuanya. Ia mulai menjahit
kain itu menjadi mukena. Setelah semua selesai, ia
akan mendatangi rumah kerabat, tetangga, dan saudara
untuk membagikan mukena hasil jahitannya. “Biarlah
mereka memakai mukena buatanku, mudah-mudahan
menjadi pahala.”

Uang belanja yang berlebih selalu ia simpan rapi.
Jika ada kesempatan, ia akan membeli barang-barang
dalam jumlah banyak. Mulai dari sarung, bahan baju,
mangkok, gelas, sapu, baskom, seprei, dan lain-lain.
Semua ia kumpulkan dengan baik. Tapi barang-barang
itu tidak pernah bertahan lama di rumah. Setiap kali
ada saudara berkunjung, tetangga datang, sahabat
bersilaturahmi, mereka tak pernah pulang dengan
tangan kosong. Selalu saja ada yang disedekahkan
perempuan itu. Bahkan jika tidak ada sesuatu yang
bisa diberi, ia akan menguras dapurnya. Ada-ada saja
yang ia beri. Kerupuk, jeruk nipis, pisang, ubi,
kelapa atau apa saja yang saat itu ada di rumah.

Setiap kali ia membuat kue atau memasak sesuatu, ia
akan menyuruh anaknya untuk mengantar semangkuk
makanan ke rumah tetangganya. Bahkan jika ada orang
yang memberinya sesuatu, ia seringkali memberikannya
untuk orang lain tanpa sempat ia sisakan untuk
keluarganya.

Jika tiba saat pulang kampung, ia menjadi perempuan
yang paling sibuk. Ia akan berbelanja segala macam
sayuran seperti buncis, cabe, atau wortel,
buah-buahan seperti apel, jeruk, dan salak. Tak lupa
juga ia sempatkan membuat rendang (ia paling jago
membuat makanan yang satu ini). Semuanya ia bagikan
kepada keluarga di kampung, baik keluarganya maupun
keluarga suaminya. Bahkan tak jarang beberapa lembar
uang ia selipkan untuk kerabatnya.

Ia begitu rajin bersilaturahim, baik terhadap
keluarga, tetangga, atau sahabatnya. Percayalah,
setiap kali berkunjung, selalu saja ada yang
dibawanya. Entah itu gulai ikan, kue, kelapa,
pisang, atau cuma sebungkus kerupuk. Tangannya tak
pernah kosong dan selalu memberi.

Di sisi lain, ia selalu mempertahankan ibadahnya. Ia
hampir tak pernah meninggalkan shalat dhuha dan
tahajud setiap harinya. Terkadang jika hatinya
sedang tidak enak, ia bisa begitu lama duduk di atas
sajadahnya sambil menangis. Mulutnya pun tak pernah
berhenti berdzikir. Dalam tasnya selalu ada tasbih,
yang selalu ia pegang ketika berdzikir dalam
perjalanan. Ia selalu salat berjamaah bersama
suaminya. Seringkali ia rela menunggu suaminya
pulang kantor karena hanya ingin mendapat pahala
berjamaah. Selesai salat berjamaah, ia bergegas
menyiapkan makanan untuk suaminya.

Perempuan ini juga begitu rajin mengunjungi orang
sakit. Setiap kali mendengar ada orang yang sakit,
ia akan bergegas mengunjunginya, bahkan mengunjungi
orang yang sama berkali-kali. Satu yang khas dari
dirinya, selalu saja ada yang dibawanya ketika
mengunjungi orang lain. Kadang ia mengaji di samping
orang yang sakit dan menangis.

Sudah beberapa tahun ini, perempuan itu jarang
sekali membeli baju baru, atau perhiasan baru. Semua
uangnya disisihkan untuk bersedekah atau menambah
uang jajan bagi anaknya. Ia begitu sederhana dan apa
adanya.

Perempuan itu selalu membuat saya menangis bila
mengingat kebaikannya. Sungguh, saya begitu
mencintainya. Perempuan itu adalah ibu saya,
seseorang dengan hati seluas samudera. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: