Yuk, Perang Melawan AIDS!

Tanggal 1 Desember selalu diperingati sebagai Hari AIDS sedunia. Mengapa selalu diperingati? Hmm.. ini tak ubahnya dengan ulang tahun kelahiran seseorang atau lembaga, tanggal penetapan itu konon kabarnya untuk ngukur sejauh mana perkembangan dari perjuangan yang selama ini dilakukan untuk melawan dan memerangi AIDS. Tema tiap tahun juga berubah-ubah seperti ingin memotivasi para pejuangnya dalam memerangi AIDS untuk tetap bekerja keras.

Tahun 2007 dan 2008, dua tahun sekaligus, tema Hari AIDS sedunia ini kayaknya lebih keren deh, yakni “Kepemimpinan”. Mengapa tema kepemimpinan yang diusung?

“Sejak awal epidemi AIDS, pengalaman telah jelas memperlihatkan bahwa kemajuan terpenting dalam upaya penanggulangan HIV terjadi ketika ada kepemimpinan yang kuat dan berkomitmen. Para pemimpin dapat dibedakan oleh aksi, inovasi, dan visi yang mereka miliki; contoh yang mereka berikan dan bagaimana mereka melibatkan orang lain; selain juga kegigihan mereka dalam menghadapi tantangan dan hambatan.” Pernyataan ini yang tertulis di situs aidsindonesia.or.id.

Cukup banyak slogan yang pernah menjadi tema untuk peringatan hari AIDS sedunia ini, tiap tahun berganti-ganti. Misalnya, Join the Worldwide Effort (Ikuti Usaha Kami Bersama) yang dijadikan tema hari AIDS tahun 1988. Tahun 1993 tema yang diambil, “Time to Act” (Saatnya Beraksi). “Stop AIDS, Keep the Promise” (Hentikan AIDS, Jaga Janjinya) menjadi tema hari AIDS sedunia pada 2005.

Perang setengah hati
Boys and gals, meski upaya perang melawan AIDS udah digelar sejak lebih dari seperempat abad lalu, tepatnya sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1981, ketika seorang gay (homoseksual) didiagnosis terkena HIV yang menyebabkan daya tahan tubuhnya merosot secara drastis, namun sampai sekarang hasil yang signifikan untuk menghempas AIDS tak jua datang. Boro-boro hilang, jumlah penderitanya malah kian berkembang biak dengan cepat. Penyakit mematikan ini tetap menjadi ancaman dunia. Entah sampai kapan.

Tapi yang jelas, dilihat dari perkembangan perang dalam upaya melawan AIDS yang dilakukan UNAIDS atau banyak negara dan kalangan pegiat LSM, rasa-rasanya seperti tak akan membuahkan hasil maksimal. Tanya kenapa? Ini bukan soal mendahului takdir atau su’udzan alias berburuk sangka, Bro. Tapi ini soal fakta dan akibat yang bisa kita jangkau dengan pikiran dan perasaan kita secara nyata.

Gimana nggak, upaya pencegahan terhadap penyakit mematikan ini terkesan cuma ngabisin dana doang. Sementara yang dilakukan itu sudah jelas tak akan membuahkan hasil maksimal. Malah terkesan tetap memberi ruang bagi berkembangnya AIDS. Bener, lho!

Bro, selama ini perang melawan AIDS itu dilakukan dengan cara “penyembuhan” dan “peredaman”, bukan pemusnahan. Ibarat kalo dakwah tuh cuma amar ma’ruf doang, sementara nahyi munkar-nya diabaikan. Ya, insya Allah nggak bakalan berhasil maksimal. Ada sih keberhasilan, meski sejatinya hanya tampak di permukaan saja. Sayang banget kan?

Iya, masa’ sih kita masih percaya banget untuk meredam AIDS malah memberikan kondom kepada mereka yang berisiko tinggi tertular AIDS macam pelacur dan aktivis free sex?

Benar-benar bikin heran deh, karena yang dilakukan tuh cuma “pengobatan”, itu pun salah prosedur. Lha iya Bang, gimana nggak disebut salah prosedur wong seharusnya jalur utama penyebaran virus itu dihempaskan, eh malah diobati sembari pelaku yang berisiko dibiarkan tetap bermain di arena berbahaya. AIDS, sejauh ini penularannya berkembang pesat melalui hubungan seksual. Maka, korbannya saat ini bukan hanya mereka yang aktif free sex, tapi juga yang pasif tapi berhubungan dengan pasangannya yang doyan free sex dan terinfeksi HIV. Duh, kasihan banget kan? Bahkan banyak bayi yang begitu lahir darahnya udah terkontaminasi HIV. Naudzubillahi mindzalik.

Ini gara-gara salah prosedur sejak awal. Untuk masalah kebakaran saja misalnya, kita sebenarnya udah tahu yang namanya kebakaran adalah kejadian yang merugikan banyak orang. Untuk pencegahannya selain sistem pengamanan yang bagus dari sumber-sumber yang bisa memicu terjadinya kebakaran, juga dari orangnya yang tentunya berhubungan dengan sumber pemicu kebakaran.

Itu sebabnya, upaya yang dilakukan harus mengarah kepada faktor manusia dan juga sistem pengamanan. Untuk faktor manusia, seharusnya diajarin tuh gimana memperlakukan api dan sumber-sumber api, serta penggunaannya untuk berbagai keperluan yang bermanfaat. Hanya saja, karena faktor keteledoran manusia bisa menjadi pemicu kebakaran, maka sistem pengamanan yang tinggi bisa dibuat dan tentunya ada kebijakan khusus dari pemerintah sebagai penanggung jawab berbagai persoalan kehidupan warga negaranya.

So, jangan berikan korek api kepada orang-orang yang berpotensi membuat kebakaran atau jangan berikan pisau kepada orang yang berpotensi membuat kerusakan. Maka, jika kondom diibaratkan sebagai pisau, di tangan orang yang baik-baik bisa saja digunakan untuk alat kontrasepsi dalam rangka mengatur jarak kehamilan, misalnya. Tapi gimana jadinya kondom di tangan pelacur atau pelaku seks bebas?

Hmm.. udah kebayang kan mau digunakan untuk apa tuh kondom? Apalagi digembar-gemborkan kalo kondom bisa cegah HIV/AIDS. O..oo.. makin tancap gas aja tuh kayaknya untuk menggeber syahwat di tempat salah. Persis kayak dulu waktu mewabahnya penyakit sipilis, tempat pelacuran sepi. Tapi begitu Sir Alexander Fleming menemukan penisilin, dan terbukti bisa nyembuhin penyakit kelamin tersebut, tempat pelacuran kembali semarak. Halah, tuh otak udah di taro di dengkul kali ye? Lagian apa nggak ada kerjaan lain selain mikirin seks melulu? Udah gitu salah pula tempat penyalurannya. Musibah besar deh.

Itu sebabnya, R Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah. (Republika, 12 Nopember 1995)

Termasuk yang aneh bin ajaib adalah pembagian jarum suntik steril bagi para pengguna narkoba yang udah jelas diakui sebagai pihak yang berisiko kena HIV/AIDS. Bukannya disembuhin total malah dikasih kesempatan untuk menikmati kecanduan. Duh, gimana sih? Serius apa nggak cegah AIDS?
Terus nih, dalam hal penanganan pasien AIDS aja, ternyata berbanding terbalik dengan penanganan terhadap pasien flu burung. Kalo ada orang yang terkena virus H5N1 langsung disediakan tempat khusus yang steril biar virus nggak nyebar ke mana-mana. Padahal, belum terbukti kalo tuh virus bisa menular antarmanusia. Yang udah terbukti, H5N1 hanya menular dari unggas yang terinfeksi virus tersebut ke manusia.

Tapi, apa yang dilakukan untuk melawan AIDS? Meski udah tahu bahwa migrasi virus HIV justru bisa terjadi antarmanusia, tapi kini ada upaya bahwa pasien AIDS disarankan untuk tidak diisolasi di ruang khusus. Boleh dicampur dengan pasien lain. Dengan alasan kemanusiaan, yakni supaya tidak terjadi diskriminasi karena cap ODHA itu umumnya pelaku maksiat meski saat ini nggak mesti, karena banyak istri yang tertular HIV dari suaminya yang pelaku maksiat urusan syahwat. Nah, seharusnya diobati dengan cara dikarantina. Dipisahin dari orang lain atau pasien penyakit lain. Tentu tetap diperlakukan sebagai manusia dan hak-haknya dipenuhi.

Babat penyebab utamanya!
Sobat muda muslim, perang melawan AIDS saat ini cuma ngabisin duit sementara hasilnya nggak maksimal. Mission Impossible jika ngelihat praktik di lapangan saat ini.

Nah, sebenarnya apa penyebab utama berkembangnya penularan dan penyebaran AIDS? Saya pernah satu forum dalam sebuah acara dengan seorang dokter ketika membahas tentang AIDS. Beliau bahkan menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa virus HIV sangat efektif menular melalui hubungan seksual. Virus HIV terkumpul dalam jumlah banyak di darah dan juga di cairan sperma dari orang yang udah terinfeksi virus ini. Jadi, kalo pelacuran dan seks bebas tidak dihentikan, sang virus akan mencapai koloni dalam jumlah banyak di tubuh-tubuh manusia. Naudzubillahi mindzalik!

Oya, ada baiknya kamu simak nih pengakuan jujur seorang penderita AIDS, “Sebab narkoba dan seks bebas merupakan cara penularan HIV/AIDS yang paling gampang,” katanya di Pekanbaru, Kamis. Lelaki berusia 31 tahun yang mengaku bernama Boy ini telah tiga tahun menderita HIV/AIDS akibat dari pergaulan bebas dan kecanduan narkoba jenis putau. (republika.co.id, 17 Mei 2007)

Bro, kalo udah tahu penyebab utama, maka seharusnya itu yang kita kejar untuk dibereskan, bukan akibat sekundernya. Betul?
Logika yang gampang gini deh. Kalo genteng rumah kita bocor, terus kalo musim hujan itu pasti nggak bisa nahan guyuran air hujan, maka prosedur cerdas yang harus dilakukan adalah mengganti genteng yang bocor kan? Bukan mengantisipasi dengan nyiapin ember buat mewadahi air hujan di tempat yang bocor. Apalagi kalo kemudian prosedur itu mengakibatkan efek samping lain, dan bikin banjir seisi rumah. Apa nggak repot? Ribet banget tuh. Lagian apa nggak malu diledek sama Gus Dur: “Gitu aja kok repot?”

Nah, biar nggak repot, ganti saja gentengnya. Beres kan? Yup, karena AIDS ini bukan semata masalah kesehatan, tapi juga lebih disebabkan perilaku budaya dan gaya hidup yang diakibatkan oleh sistem sekularisme yang membolehkan manusia untuk menjadi liberal sesuai kehendak hati dan pikirannya dengan mengabaikan norma masyarakat dan termasuk norma agama, maka yang harus diganti dan dikampanyekan adalah penggantian sistem kehidupan. Mumpung tema hari AIDS sedunia 2007 dan 2008 ini adalah “Kepemimpinan”, gitu lho. Terus, diganti dengan apa? Jawaban mantapnya: dengan Islam. Ya, Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara.

Seks bebas dan peredaran narkoba yang menjadi tempat penyebaran AIDS paling gampang justru tumbuh subur karena dibiarkan bebas dalam sistem sekularisme-kapitalisme dengan instrumen politiknya bernama demokrasi. Ciee.. nih nulisnya berat gini nih. Hehe..nggak apa-apa, kan tema hari AIDS-nya Kepemimpinan. Setuju kan?

Jadi, yuk kita perangi AIDS dengan memerangi sumbernya, yakni sekularisme-kapitalisme. Ganti dengan Islam. Ayo, bersama kita bisa! [solihin: sholihin@gmx.net]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: